Translate

Selasa, 02 Desember 2014

Sejarah Pura Bukit Sinunggal

TUGAS SEJARAH KEBUDAYAAN

SEJARAH PURA BUKIT SINUNGGAL

DOSEN: I Ketut Mardika



NAMA:                                            NIM:
I Wayan Juniarta                            II.I.I.I.I.453


FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA DENPASAR
2012/2013


KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya makalah yang berjudul “Sejarah Pura Bukit Sinunggal” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini disusun dengan sangat sederhana karena dalam penyusunannya dalam waktu yang relatif singkat. Sesuai dengan pepatah “Tiada gading yang tak retak“ maka dari itu, atas kekurangan – kekurangan yang ada maka penulis harapkan para pembaca memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya makalah ini dapat semakin sempurna.

Gianyar, mei 2012

                                                                                                                        Penulis








i
DAFTAR  ISI

Judul ..............................................................................................................  
Kata Pengantar ....................................................................................          i
Daftar Isi ..............................................................................................         ii

BAB I.  PENDAHULUAN………………………………………….         1
1.1. Latar Belakang ..............................................................................         1
1.2. Rumusan Masalah..........................................................................         2
1.3. Tujuan Penulisan............................................................................         2

BAB II.  PEMBAHASAN..................................................................         3
2.1. Sejarah Pura Bukit Sinunggal........................................................         3
2.2. Kerajaan Bedahulu atau Bedulu.....................................................       4
2.3. sisa-sisa peninggalan kerajaan bedahulu........................................         5
2.4.pura bukit sinunggal........................................................................         6

BAB III.  PENUTUP ..........................................................................       10
3.1. Kesimpulan ...................................................................................       10
3.2. saran...............................................................................................       11
          DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah merupakan suatu hal yang riil dimana secara pengertian sempitnya sejarah itu sudah terjadi dan bahkan terlewatkan. Yang menurut R. Moh Ali sejarah ada 3 pengertian, yaitu Sejarah adalah kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa seluruhnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia, Sejarah adalah cerita yang tersusun secara sistematis (serba teratur dan rapi),dan Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian pada masa lampau.
Dari keseluruhan itu dapat disimpulkan sejarah itu ialah suatu kejadian–kejadian ataupun peristiwa pada masa lampau yang berkaitan dengan kehidupan manusia, dan tersusun secara sistematis. Sejarah dapat meninggalkan sesuatu baik benda, bangunan atapun semacamnya yang biasa disebut peninggalan sejarah. Dimana peninggalan sejarah perlu dijaga dan dilestarikan agar generasi anak cucu dapat melihat ataupun menelitinya. Apalagi peninggalan sejarah itu merupakan sejarah lokal yang sering kita dengar, sering kita kunjungi atau datangi dan sebagainya.
Sehingga atas dasar itu penulis menulis makalah ini selain merupakan tugas pribadi dari Guru mata pelajaran Sejarah yang menugaskan siswa X agar menulis makalah yang bertemakan sejarah lokal. Yang bertujuan agar para siswa bisa mengetahui, mengamati, menjaga serta melestarikannya. Selain itu mungkin para siswa juga bisa mengamalkannya kepada masyarakat agar masyarakat sekitar kita mengetahui lebih detail tentang peninggalan sejarah tersebut. Sehingga bersama masyarakat juga para siswa dapat menjaga kelestarian peninggalan sejarah tersebut.




1.2 Rumusan Masalah
Pada pembuatan makalah ini yang berjudul “Sejarah Pura Bukit Sinunggal” memiliki berbagai masalah yang akan di bahas dalam pembahasan ini, yaitu :
1. Bagaimana Sejarah Pura Bukit Sinunggal ?
2. Masa kerajaan apakan yang mendirikan Pura tersebut ?
3. Bagaimana keadaan fisik lingkungan dari Pura Bukit Sinunggal ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk persyaratan tugas dari Guru Sejarah tentang sejarah lokal yang dibebankan kepada penulis antara lain :
1. Untuk mengetahui sejarah Pura Bukit Sinunggal.
2. Untuk mengetahui masa kerajaan pendiri dari pura tersebut.
3. Untuk mengetahui keadaan fisik lingkungan dari Pura Bukit Sinunggal.







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pura Bukit Sinunggal
Pura Pucak Bukit Sinunggal merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada di Bali Utara, Pura ini terletak di Desa Tajun, Kubutambahan. Menurut sejarahnya yang dalam buku “Pura Bukit Tunggal Dalam Prasasti” disusun Ketut Ginarsa, Balai Penelitian Bahasa, Singaraja, 1979, sebelum tahun 914 Masehi pura ini menjadi milik raja yang dipuja masyarakat Bali Utara pada zaman itu. Secara administratif Pura bukit sununggal terletak di desa tajun, kecamatan kubu tambahan, kebupaten buleleng. Seperti namanya, Pura ini terletak di sebuah bukit dengan pemandangan yang asri yang dikenal dengan bukit sinunggal.
Untuk sampai di lokasi pura bukit sinunggal, kita dapat melalui jalur denpasar –kintamani, pucak penulisan melewati desa dausa menuju ke desa tajun. Jarak pura dari kota Buleleng kurang lebih 30 km dan dari kota denpasar kurang lebih 98 km.Pura ini dulunya bernama hyang bukit tunggal namun masyarakat biasa menyebutkan dengan pura bulit sinunggal. Sebelumnya mandala pura ini cukup sempit dengan pelinggih pelinggih yang sederhana, setelah didakan beberapa pemugaran kini pura tampak indah dan asri.
Dalam sejarahnya disebutkan bahwa pada abad ke 5 ida bhatara sudah melingga di pura ini yang konon hadir dari Gunung Himalaya, India diiringi Batara Ganesa. Karena itu Ganesa terdapat di dalam pelinggih utama di Meru Tumpang Pitu. Didalam prasasti hyang bukit tunggal juga disebutkan bahwa pura bukit sinunggal dulunya disungsung oleh raja raja dari seluruh bali.
Dimana sebenarnya Pura ini merupakan salah satu sisa-sisa peninggalan Kerajaan Bedahulu. Berdasarkan prasasti Raja Sri Kesari Warmadewa tertanggal 19 Agustus 914, Pura Gunung Sinunggal yang dahulu disebut Hyang Bukit Tunggal terdapat di Desa Air Tabar, daerah Indrapura. Desa Indrapura kini disebut Desa Depaa. Sedangkan yang memelihara Pura Bukit Tunggal itu adalah Desa Air Tabar. Di desa itu terdapat tokoh-tokoh masing-masing Mpu Danghyang Agenisarma, Sri Naga, Bajra dan Tri.
Keempat tokoh masyarakat itu berpangkat Ser Tunggalan, Lampuran. Mereka bertugas mempersatukan masyarakat desa serta melaporkan keadaan dan peristiwa yang terdapat di Desa Air Tabar dan sekitar Pura Bukit Tunggal kepada Sri Paduka Raja Kesari Warmadewa di Istana Singhamandawa. Pada saat itu Istana Singhamandawa terletak di antara Desa Bedulu dan Desa Pejeng sekarang.
Sesuai peraturan adat zaman dulu, letak desa pengemong ada di sebelah utara Pura Bukit Tunggal itu. Seperti halnya desa kecil lainnya yang masuk dalam wilayah Desa Julah, Desa Air Tabar juga sering didatangi perampok. Untuk menjaga keamanan, masyarakat desa itu berpindah tempat menuju ke selatan Pura Bukit Tunggal. Di sana mereka membangun desa baru yang disebut Desa Tanjung. Lama-kelamaan menjadi Desa Tajun atau Tetajun.

2.2 Kerajaan Bedahulu atau Bedulu
Pura Bukit Sinunggal merupakan salah satu peninggalan sejarah dimana diperkirakan pura ini ada pada masa dimana sebuah kerajaan yang bernama “Kerajaan Bedahulu” berkembang dan mencapai kejayaannya.
Kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng (baca: pèjèng) atau Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu (Dalem Bedahulu) menentang ekspansi kerajaan Majapahit pada tahun 1343, yang dipimpin oleh Gajah Mada, namun berakhir dengan kekalahan Bedulu. Perlawanan Bedulu kemudian benar-benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya (Dalem Makambika) berhasil dikalahkan tahun 1347.
Setelah itu Gajah Mada menempatkan seorang keturunan brahmana dari Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan sebagai raja (Dalem) di pulau Bali. Keturunan dinasti Kepakisan inilah yang di kemudian hari menjadi raja-raja di beberapa kerajaan kecil di Pulau Bali.
Untuk mengetahui lebih lanjut perkembangan kerajaan ini dipimpin oleh raja-raja yang turun temurun melaksanakan dan memerintah kerajaan Bedulu atau Bedahulu.
Berikut Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Bedulu atau Bedahulu :
1. Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa – (882-913)
2. Sri Ugrasena – (915-939)
3. Agni
4. Tabanendra Warmadewa
5. Candrabhaya Singa Warmadewa – (960-975)
6. Janasadhu Warmadewa
7. Sri Wijayamahadewi
8. Dharmodayana Warmadewa (Udayana) – (988-1011)
9. Gunapriya Dharmapatni (bersama Udayana) – (989-1001)
10. Sri Ajnadewi
11. Sri Marakata – (1022-1025)
12. Anak Wungsu – (1049-1077)
13. Sri Maharaja Sri Walaprabu – (1079-1088)
14. Sri Maharaja Sri Sakalendukirana – (1088-1098)
15. Sri Suradhipa – (1115-1119)
16. Sri Jayasakti – (1133-1150)
17. Ragajaya
18. Sri Maharaja Aji Jayapangus – (1178-1181)
19. Arjayadengjayaketana
20. Aji Ekajayalancana
21. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana
22. Parameswara
23. Adidewalancana
24. Mahaguru Dharmottungga Warmadewa
25. Walajayakertaningrat (Sri Masula Masuli atau Dalem Buncing?)
26. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Dalem Bedahulu) – (1332-1343)
27. Dalem Tokawa (1343-1345)
28. Dalem Makambika (1345-1347)
29. Dalem Madura

2.3.      Sisa-sisa peninggalan dari kerajaan Bedahulu
Perlawanan kerajaan Bedulu terhadap Majapahit oleh legenda masyarakat Bali dianggap melambangkan perlawanan penduduk Bali asli (Bali Aga) terhadap serangan Jawa (Wong Majapahit). Beberapa tempat terpencil di Bali masih memelihara adat-istiadat Bali Aga, misalnya di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli; di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem; serta di desa-desa Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa, Tiga Was, Padangbulia di Kabupaten Buleleng.
Beberapa obyek wisata yang dianggap merupakan peninggalan kerajaan Bedulu, antara lain adalah pura Jero Agung, Samuan Tiga, Goa Gajah, termasuk didalamnya juga Pura Bukit Sinunggal.

2.4.  Pura Bukit Sinunggal
Pura Bukit Sinunggal terletak di sebuah bukit, dengan ketinggian kurang lebih 600 meter diatas permukaan laut. Untuk sampai di utama mandala pura, kita harus menaiki 113 anak tangga sepanjang kurang 300 meter.
Menurut penuturan Pemangku Pura, para pemedek yang ingin tangkil ke pura ini harus terlebih dahulu membersihkan diri di Beji Pura Air Tabar, kemudian ke Pura Dasar Bhuwana, tempat melinggih-nya Batara Siwa Budha, barulah ke Pura Bukit Sinunggal.
Sebelum sampai di utama mandala, di areal paling bawah, terdapat sebuah candi bentar dengan dua buah apit lawang di kanan kirinya.Di pelataran ini terdapat sebuah pelinggih yang disebut dengan pelinggih empulawang, sebagai stana bhtara ratu bagus manik ulap. Sebelum menuju pura utama, hendaknya kita terlebih dahulu menghaturkan sembah di pelinggih ini. Secara sekala, pelinggih ini merupakan penjaga, sebelum memasuki areal tersuci pura.Dari areal ini kita dapat menaiki beberapa buah anak tangga yang akan mengantarakan kita menuju utama mandala. Di tengah perjanan, berdiri sebuah pelinggih yang disebut dengan pelinggih lebuh. Fungsi pelinggih ini adalah pengayatan ke bhatara segara.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit, kita akan sampai di areal utama mandala pura bukit sinunggal.Sebelum masuk ke areal utama mandala, di sisi kanan pura berdiri sebuah bangunan terbuka yang berfungsi sebagai wantilan pura. Di sebelah wantilan terdapat sebuah pohon besar, dengan sebuah pelinggih aling aling, yang berfungsi sebagai penjaga. Melewati sebuah candi bentar, kita akan memasuki utama mandala pura bukit sinunggal. Suasana di mandala ini terasa begitu sejuk dan begitu tenang. Naungan beberapa pohon besar, semakin menguatkan kesan sakral kental dengan aroma kesucian.
Dengan luas sekitar dua puluh are, pelataran utama mandala pura bukit sinunggal dihiasi beberapa buah pelinggih, termasuk pelinggih utama pura. Berada di utama mandala, pandangan kita akan langsung tertuju pada sebuah meru tumpang tuju, yang dikelilingi tembok penyengker. Meru ini merupakan pelinggih pokok pura, stana dari ida ratu pucak sinunggal atau bhatara lingsir, yang bergelar Ida ratu manik astagina, sekaligus merupakan penguasa delapan penjuru mata angin. Adanya tembok penyengker yang mengelilingi meru bukannya tanpa alasan. Jelas ini menunjukkan bahwa tidak semua sembarang orang boleh memasuki areal meru, kesucian hati dan fikiran merupakan syarat mutlak untuk memuja beliau disini.
Di sebelah meru, berdiri sebuah padma yang merukan lingga stana Ida Hyang Pasupati. Tepat di depan padma, berdiri sebuah phon beringin besar dengan pelinggih yang ada dibawahnya sebagai stana ratu ayu mas melanting. Di sebelah pohon beringin, berdiri sebuah pelinggih sebagai pengayatan ratu gede dalem ped, dan pelinggih ratu ngurah tangkeb langit atau ratu wayan tebeng.Di sisi kanan meru berdiri beberapa pelinggih sebagai pengayatan sapta dewata yaitu pura lempuyang, besakih, batur, batukaru, andakasa, pucak mangu, dan beratan.Di mandala ini terdapat sebuah arca yang merupakan pengayatan ke segara majapahit.
Jeroan pura juga dilengkapi oleh beberapa bangunan pelengkap seperti gedong penyimpenan, bale gong, pesamuan dan bale dana punia.Piodalan adalah upacara pemujaan kehadapan Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasiNya lewat sarana pemerajan, pura kahyangan dengan ngelinggihang atau ngerekayang dalam hari hari tertentu. Hari piodalan suatu pura terkait dengan upacara peresmian pertama kali atau pemelaspas dan ngenteg linggih.Perhitungan piodalan di pura bukit sinunggal dilaksanakan berdasarkan pawukon dan wewaran, sehingga piodalannya jatuh pada purnamaning kapat, atau saat bulan Oktober. Pada piodalan itu Ida Batara nyejer selama 7 hari. Saat piodalan ribuan pemedek tangkil dari berbagai daerah.
Pura bukit sinunggal merupakan pura dengan masyarakat pangempon yang cukup besar. Pangempon pura ini berasal dari 11 desa, yang ada di kecamatan kubu tambahan, diantaranya adalah dari desa tajun, tunjung, depa, bayad, sembiran, pacung, bangkah, tamblang, tangkid, mangening, dan kelampuak. Di desa tajun sendiri pangempon pura berjumlah hampir 1500 kepala keluarga. Pangempon pura, merupakan penyangga utama pura, baik itu dari upakara dan upacara yang dilaksanakan rutin. Pemugaran pura yang dilaksanakan tahun 1990, merupakan swadaya dari masyarakat pangempon yang menghaturkan dana punia. Pura bukit sinunggal merupakan salah satu pura yang sangat sacral. Menurut penuturan mangku pura, bila akan terjadi bencana besar dari meru akan memancar sinar merah terang dan beberapa kali telah terbukti.
Tak heran jika banyak pemedek yang sengaja datang dari jauh untuk dapat tangkil di pura ini. Banyak Pemedek yang datang ke pura ini bermula dari mimpi mimpi. Sebagian datang untuk memohon obat maupun kesejatraan.Masyarakat yang datang ke pura bukit sinunggal berasal dari berbagai kalangan, dari pejabat sampai wisatawan asing yang menerima bisikan dari mimpi. Keberadaan pura bukit sinunggal sangat disucikan oleh masyrakat, ini terbukti dengan tidak diperbolehkannya wisatawan asing memasuki areal pura, kecuali akan melakukan persembahyangan.Pura bukit sinunggal merupakan salah satu pura yang sangat baik untuk melakukan meditasi, vibrasi suci yang mengalir kuat memancarkan kedamaian di setiap raga yang berada di parahyangan ini.
Ada satu hal menarik terkait dengan keberadaan Pura Bukit Sinunggal. Di pura ini pendiri kota Singaraja, Ki Barak Panji Sakti, pernah mengucapkan kaul. Kisahnya dimulai saat Panji Sakti hendak menyerang Blambangan pada abad ke-10. Ketika itu, menurut sejarah, dalam perjalanan menuju Blambangan, Panji Sakti kehilangan arah di lautan dan tidak melihat apa pun. Dalam kepanikan itulah ia memohon kepada Ida Batara Lingsir Manik Astagina Bukit Sinunggal agar diberi petunjuk jalan agar tidak tersesat. Untuk itu dia berkaul akan mengaturkan 6 ekor kerbau.
Selain itu, Pura Bukit Sinunggal juga sering disebut “Besakih”-nya Buleleng lantaran semua pelinggih yang ada di Besakih terdapat pula di pura ini. Menurut Jro Mangku, hal tersebut dikarenakan alasan teknis. Pada zaman dulu karena kesulitan kendaraan, masyarakat Bali Utara menemui hambatan bila hendak menuju Pura Besakih. Padahal mereka harus melaksanakan upacara meajar-ajar usai upacara ngaben ke Pura Besakih, Karangasem. Untuk mengatasi kesulitan perjalanan itu, dibuatkanlah pelinggih seperti di Besakih agar warga Bali Utara bisa menuntaskan upacaranya di Tajun saja.
BAB III
PENUTUP

Demikian makalah yang penulis dapat penulis kerjakan untuk memperlengkap makalah ini penulis mencantumkan Bab III yaitu Penutup, berisikan tentang kesimpulan dan saran yang didapat dari Bab – bab sebelumnya.
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Pura Pucak Bukit Sinunggal merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada di Bali Utara, Pura ini terletak di Desa Tajun, Kubutambahan. Pura ini merupakan salah satu sisa-sisa peninggalan Kerajaan Bedahulu. Berdasarkan prasasti Raja Sri Kesari Warmadewa tertanggal 19 Agustus 914, Pura Gunung Sinunggal yang dahulu disebut Hyang Bukit Tunggal terdapat di Desa Air Tabar, daerah Indrapura. Desa Indrapura kini disebut Desa Depaa. Sedangkan yang memelihara Pura Bukit Tunggal itu adalah Desa Air Tabar. Di desa itu terdapat tokoh-tokoh masing-masing Mpu Danghyang Agenisarma, Sri Naga, Bajra dan Tri.
b. Pura Bukit Sinunggal merupakan salah satu peninggalan sejarah dimana diperkirakan pura ini ada pada masa dimana sebuah kerajaan yang bernama “Kerajaan Bedahulu” berkembang dan mencapai kejayaannya. Kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng (baca: pèjèng) atau Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa.
c. Pura Bukit Sinunggal terletak di sebuah bukit, dengan ketinggian kurang lebih 600 meter diatas permukaan laut. Terdapat sebanyak 113 anak tangga sepanjang kurang 300 meter agar bisa mencapai utama mandala Pura Bukit Sinunggal. Di areal paling bawah, terdapat sebuah candi bentar dengan dua buah apit lawang di kanan kirinya. Terdapat beberapa pelinggih berupa meru ataupun biasa seperti Pelinggih Ida Hyang Pasupati, Ratu Gede Macaling, dsb. Dengan luas areal sekitar dua puluh are dengan lingkungan sejuk, asri serta banyak ditumbuhi berbagai macam tumbuhan pegunungan yang menambah keindahan pura.
3.2. S a r a n
Adapun beberapa saran yang saya ajukan diantaranya :
a. Bagi generasi muda agar dapat menjaga dan melestarikan segala bentuk peninggalan bersejarah kita. Seperti halnya Pura Bukit Sinunggal dimana disamping sebagai tempat ibadah juga merupakan salah satu tempat bersejarah. Kita senantiasa menjaga kesucian pura itu sendiri baik kebersihan secara sekala maupun niskala.
b. Bagi masyarakat yang berada disekitar pura maupun yang akan melaksanakan ibadah atau juga berwisata ke Pura Bukit Sinunggal setidaknya harus taat dengan aturan adat setempat yang mengharuskan agar memakai setidaknya kain dan selendang apa bila memasuki kawasan atau areal pura. Juga diharapkan agar menjaga kebersihan pura baik niskala ataupun sekala.








DAFTAR PUSTAKA
Ginarsa, Ketut. 1979. “Pura Bukit Tunggal Dalam Prasasti”. Singaraja : Balai Penelitian Bahasa.
http://id.google.co/tradisi-lisan-dalam-penulisan-sejarah-lokal.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar