Translate

Selasa, 02 Desember 2014

Karma Phala dan Punarbhawa


Karma Phala dan Punarbhawa

Pengertian Karma Phala
Kata karma berasal dari dari bahasa Sansekerta, yang artinya berbuat atau bekerja. Manusia yang dipengaruhi oleh Tri Guna yang terdapat dalam dirinya selalu bergerak aktif dan berbuat. Perbuatan atau kegiatan yang dilakukan itu kadang-kadang disadari, kadang-kadang  tidak disadarinya. Kegiatan atau perbuatan tersebut ada yang baik dan ada yang tidak baik, semua itu di sebut dengan Karma. Jadi, untuk lebih jelasnya dapat kita simpulkan bahwa karma ialah segala perbuatan dan kegiatan yang kita lakukan tanpa kecuali baik yang secara sadar maupun yang kita laksanakan secara tidak sadar.
            Bebtuk-bentuk karma itu sesuai dengan sumbernya ada tiga macam juga, yaitu:
1.      Karma dalam bentuk pikiran
2.      Karma dalam bentuk ucapan
3.      Karma dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku
Jika begitu, dapat kita ungkapkan apa yang disebut dengan karma ialah segala kegiatan dalam bentuk pikiran, ucapan, dan perbuatan, baik yang disadari maupun tidak di sadari.
            Seperti halnya,  seorang petani ang menanam jagung atau singkong, pasti ia akan memetik jagung dan singkong, karena jagung itu kelak pasti kan berbuah dan singkong itu pasti akan berumbi. Petani itu pula akan menikmati rasanya atau yang akan memetiknya. Bukan orang lain, karena petani itulah yang menjadi pemiliknya.
            Begitu juga halnya dengan karma, perbuatan yang dilakukan oleh manusia pasti akan menimbulkan hasil, buah atau akibat. Hasil dari perbuatan itulah yang disebut dengan Karma Phala. Kata Phala berarti buah atau hasil, dan yang akan menerima Karma Phala atau buah karma itu adalah orang yang memiliki karma itu, sebab ia sendiri yang membuat karma itu.  Jika dia membuat karma yang baik, dia akan menerima hasil baik dan jika sebaliknya, maka dia juga yang akan menerima hasil yang tidak baik. Keadaan atau kejadian seperti ini di sebut dengan Hukum Karma Phala atau Hukum Karma.
            Hukum Karma adalah hukum alam yang menjelaskan bahwa segala perbuatan akan menimbulkan hasil, pebuatan baik akan menimbulkan kebaikan dan perbuatan jahat akan menimbulkan kejahatan (penderitaan).
            Hal itu sesuai dengan Hukum sebab akibat yang menyatakan bahwa setiap sebab menimbulkan akibat. Maksudnya segala sebab yang berupa perbuatan akan membawa akibat sebagai hasil perbuatan itu, karena kata perbuatan sama dengan “Karma” maka dapat kita katakan sebagai berikut: segala karma (perbuatan) akan mengakibatkan Karma Phala (hasil/buah perbuatan).
            Inilah yag disebut  juga dengan Hukum Karma. Hukum Karma ini adalah hukum alam semesta yang telah ditetapkan oleh Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu, Hukum Karma itu berlaku bagi semua manusia. Hukum Karma itu berlaku dimana saja, kapan saja dan terhadap sapa saja, karena hukum karma itu tidak dipengaruhi oleh ruang, waktu, dan tempat. Karena itu, Hukum itu telah berlaku sejak alam ini mulai diadakan dan akan terus berlaku sampai alam ini pralaya.


Pengertian Punarbhawa
            Kata Punarbhawa berasal dari bahasa Sansekerta, terdiri dari dua kata, yaitu kata punar yang berarti lagi, kembali, dan kata bhawa berarti menjelma. Jadi Punarbhawa  berarti kelahiran yang berulang-ulang yang disebut juga penitisan atau samsara. Di dalam pustaka suci Weda dikatakan bahwapenjelmaan atma (roh) yang berulang-ulang (samsriti) ke dunia ini disebut samsara. Punarbhawa atau samsara ini terjadi di akibatkan oleh adanya Hukum Karma, dimana karma yang jelek menyebabkan atma (roh) menjelma kembali untuk memperbaiki perbuatanya yang tidak baik, atau karena atma itu masih di pengaruhi oleh karma wasana ( bekas-bekas atau sisa-sisa perbuatan) atau kenikmatan duniawi sehingga tertarik untuk lahir ke dunia. Kelahiran ini adalah samsara (sengsara) sebagai hukuman yang diakibatkan oleh perbuatan atau karma dimasa kelahiran terdahulu.
            Segala yang kita perbuat di dunia ini menyebabkan adanya bekas (wasana) dalam jiwatman. Bekas-bekas perbuatan (karma wasana) ada macam –macam. Jika bekas-bekas itu hanya bekas ke duniawian, maka jiwatman akan lebih mudah di tarik oleh hal-hal ke duniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali. Misalnya pada waktu mati ada bekas-bekas hidup mewah pada jiwatman, maka setelah di akhirat jiwatman itu masih punya hubungan kemewahan hidup, sehingga jiwatman itu mudah untuk di tarik kembali ke dunia apabila pada saat  kematianya itu tidak ada bekas-bekas kemewahan (ikatan ke duniawian) ,maka ia akan terus bersatu dengan Sang Hyang Widhi Wasa dan mencapai tujuan akhir yang disebut moksa. Meskipun tujuan akhir manusia adalah untuk mencapai moksa,  tetapi kelahiran kita ke duniawi sebagai manusia adalah suatu kesempatan untuk meningkatkan kesempurnaan hidup guna mengatasi kesengsaraan, dan juga untuk dapat melenyapkan pengaruh karma (maya) yang merupakan sebab utama timbulnya Punarbhawa atau samsara (sengasara). Unsur-unsur maya tersebut, baik yang berupa Suksma Sarira maupun berupa Sthula Sarira yang bersumber pada citta dan Karma serta terdiri dari Panca Maha Butha itu akan selalu mengadakan hubungan tarik menarik secara timbal balik. Apa yang dialami oleh atma dalam Suksma Sarira dan Sthula Sarira demikian pula akibat yang akan dialami oleh atma dalam Sthula Sarira dan Suksma Sarira pada kehidupannya yang akan datang. Jadi yang menjadi sumber timbulnya samsara atau Punarbhawa itu adalah maya dan karma itu sendiri.
             Dengan adanya pengaruh maya maka atma menjadi awidya, karena dalam hal ini Ahamkara (sifat ego) dan indra sangat besar pengaruhnya sehingga pikiran mengarah kepada dua di antara Tri Guna, yaitu Rajas dan Tamas, sehingga mengakibatkan karma yang dilakukannya pun bersifat Rajas dan Tamas pula, karena pikiran atau citta itulah yang menjadi sumber timbulnya segala macam aktivitas (karma) tersebut.
            Setiap karma yang dilakukan atas dorongan indria dan kenafsuan adalah Asubha Karma karena akibatnya akan menimbulkan dosa, dan atma akan mengalami Neraka serta selanjutnya akan mengalami penjelmaan Punarbhawa dalam tingkat yang lebih rendah. Demikian pula sebaliknya bahwa karma yang dilakukan atas dasar buddhi sattvam adalah buddhi dharma (Subha Karma) yang mengakibatkan atma akan mendapat surga dan jika menjelma kembali akan mengalami tingkat penjelmaan yang sempurna dan lebih tinggi. Atma yang menjelma dari surga akan menjadi manusia yang hidup bahagia di dunia dan kebahagiaan ini akan dialami dalam penjelmaan yang akan datang yang di sebut Surga Syuta. Sedangkan atma yang menjelma dari Neraka akan menjadi makhluk yang nista dan akan mengalami bermacam-macam penderitaan hidup di dunia ini dan penderitaan yang dialami dalam penjelmaan ini disebut Neraka Syuta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar