Translate

Rabu, 30 September 2015

KIDUNG RSI YADNYA

Kidung Rsi Yadnya, dinyanyikan pada waktu upacara Rsi Yadnya, seperti upacara Madiksa/ Mawinten. Misalnya Kidung Sewa Dewa, Pupuh Wipet Mayura, Rasawangi.
Contoh kidung Rsi Yadnya :

Sukarini/ Rasawangi

Nihan polahing tats wiku
Nawang bumi langit
Dija ento warangane 
Punika tengahin wiku
Wulan surya lawan wintang 
Sampun kawes mireng langit
Endi pamatig ipun muag
Uriping banget asri

Kidung Manusa Yadnya

Kidung Manusa Yadnya, dinyanyikan pada waktu pelaksanaan upacara Manusa Yadnya, seperti : upacara potong gigi, perkawinan atau pewiwahan, otonan. Misalnya kidung Tantri dan Kidung Malat.

Kawitan Tantri

Wuwusan bhupati 
Ring patali nagantun
Subhaga wirya siniwi
Kajrehing sang para ratu
Salwaning jambuwarsa di
Pasraman tur kembang tawon

KIDUNG PITRA YADNYA

Kidung Pitra Yadnya, dilantunkan pada saat melaksanakan upacara Pitra Yadnya seperti : Penguburan, Ngaben, Ngasti atau Nyekah, misalnya Kidung Girisa, Aji Kembang, Bala Ugu.
Contoh Kidung Pitra Yadnya :

BALA UGU

Bala ugu dina melah
Memuja tanggal sasih
Pan Brayut Panemaya
Asisig Adyus Akramas
Suinakinan wastra petak
Mamusti madeyang batis
Sampun puput meprayoga
 Tanaswe ngemasin mati

KIDUNG DEWA YADNYA

1. Kidung Dewa Yadnya, dilantunkan pada saat melaksanakan upacara Piodalan atau upakara yang berkaitan dengan Dewa Yadnya. Misalnya Kawitan Warga Sari dan Kidung Warga Sari.
Contoh Kidung Dewa Yadnya :

Kawitan Warga Sari
Purwa kaning angripta rum
Ning wana ukir kahadang labuh
Kartika penedengin sari
Angayon tangguli ketur
Angringring jangga mure

Kidung Warga Sari
Ida ratu saking luhur
Kaula nunas lugrane
Mangda sampun titiang tandruh
Mangayat Bhatara mangkin
Titiang ngaturang pejati
Canang suci lan daksina
Sami sampun puput
Pratingkahin saji

CERITA LUBDAKA

KISAH LUBDAKA MENUJU SWARGALOKA

Lubdaka adalah seorang kepala keluarga hidup di suatu desa menghidupi keluarganya dengan berburu binatang di hutan. Hasil buruannya sebagian ditukar dengan barang-barang kebutuhan keluarga, sebagian lagi dimakan untuk menghidupi keluarganya. Dia sangat rajin bekerja, dia juga cukup ahli sehingga tidak heran bila dia selalu pulang membawa banyak hasil buruan.
Hari itu Lubdaka berburu sebagaimana biasanya, dia terus memasuki hutan, aneh pikirnya kenapa hari ini tak satupun binatang buruan yang muncul, dia semua peralatan berburu digotongnya tanpa kenal lelah, dia tidak menyerah terus memasuki hutan. Kalo sampe aku pulang gak membawa hasil buruan nanti apa yang akan dimakan oleh keluargaku..?, semangatnya semakin tinggi, langkahnya semakin cepat, matanya terus awas mencari-cari binatang buruan, namun hingga menjelang malam belum juga menemukan apa yang ia harapkan, hari telah terlalu gelap untuk melanjutkan kembali perburuannya, dan sudah cukup larut jika hendak kembali ke pernaungan.
Ia memutuskan untuk tinggal di hutan, namun mencari tempat yang aman terlindungi dari ancaman bahaya, beberapa hewan buas terkenal berkeliaran di dalam gelapnya malam guna menemukan mangsa yang lelap dan lemah. Sebagai seorang pemburu tentu dia tahu betul dengan situasi ini. Tak perlu lama baginya guna menemukan tempat yang sesuai, sebuah pohon yang cukup tua dan tampak kokoh di pinggir sebuah telaga mata air yang tenang segera menjadi pilihannya.
Dengan cekatan dari sisa tenaga yang masih ada, ia memanjat batang pohon itu, melihat sekeliling sekejap, ia pun melihat sebuah dahan yang rasanya cukup kuat menahan beratnya, sebuah dahan yang menjorok ke arah tengah mata air, di mana tak satu pun hewan buas kiranya akan bisa menerkamnya dari bawah, sebuah dahan yang cukup rimbun, sehingga ia dapat bersembunyi dengan baik. Singkat kata, ia pun merebahkan dirinya, tersembunyikan dengan rapi di antara rerimbunan yang gulita.
Ia merasa cukup aman dan yakin akan perlindungan yang diberikan oleh tempat yang telah dipilihnya. Sesaat kemudian keraguan muncul dalam dirinya. Kalo sampe dia tertidur dan jatuh tentu binatang buas seperti macan, singa, dll akan dengan senang hati memangsanya.
Ia resah dan gundah, badannya pun tak bisa tenang, setidaknya ia harapkan badannya bisa lebih diam dari pikirannya, itulah yang terbaik bagi orang yang dalam persembunyian. Namun nyatanya, badan ini bergerak tak menentu, sedikit geseran, terkadang hentakan kecil, atau sedesah napas panjang. Tak sengaja ia mematahkan beberapa helai daun dari bantalannya yang rapuh, entah kenapa Lubdaka tiba-tiba memandangi daun-daun yang terjatuh ke mata air itu. Riak-riak mungil tercipta ketika helaian daun itu menyentuh ketenangan yang terdiam sebelumnya. Ia memperhatikan riak-riak itu, namun ia tak dapat memikirkan apapun. Beberapa saat kemudian, riak-riak menghilang dan hanya menyisakan bayang gelombang yang semakin tersamarkan ketika masuk ke dalam kegelapan. Ia memetik sehelai daun lagi dan menjatuhkannya, kembali ia menatap, dan entah kenapa ia begitu ingin menatap. Ia memperhatikan dirinya, bahwa ia mungkin bisa tetap terjaga sepanjang malam, jika ia setiap kali menjatuhkan sehelai daun, dan mungkin ia bisa menyingkirkan ketakutannya, setidaknya karena ia akan tetap terjaga, itulah yang terpenting saat ini.
Lubdaka – si pemburu, kini menjadi pemetik daun, guna menyelamatkan hidupnya. Ia memperhatikan setiap kali riak gelombang terbentuk di permukaan air akan selalu riak balik, mereka saling berbenturan, kemudian menghilang kembali. Hal yang sama berulang, ketika setiap kali daun dijatuhkan ke atas permukaan air, sebelumnya ia melihat itu sepintas lalu setiap kali ia berburu, baru kali ia mengamati dengan begitu dekat dan penuh perhatian, bahwa gerak ini, gerak alam ini, begitu alaminya. Sebelumnya, ia mengenang kembali, ketika ia berburu, yang selalu ia lihat adalah si mangsa, dan mungkin si mara bahaya, namun tak sekalipun ia sempat memperhatikan hal-hal sederhana yang ia lalui ketika ia berburu. Lubdaka hanya ingat, bahwa di rumahnya, ada keluarga yang bergantung pada buruannya, dan ia hanya bisa berburu, itulah kehidupannya, itulah keberadaannya.
Ia terlalu sibuk dalam rutinitas itu, ya… sesaat ia menyadari bahwa hidup ini seakan berlalu begitu saja, ia bahkan tak sempat berkenalan dengan sang kehidupan, karena ia selalu sbuk lari dari si kematian, ia berpikir apakah si kematian akan datang ketika si kelaparan menyambanginya, ataukah si kematian akan berkunjung ketika si mara bahaya menyalaminya ketika ia lalai. Semua yang ia lakukan hanyalah sebuah upaya bertahan hidup. Ia tak tahu apapun selain itu, mungkin ia mengenal mengenal kode etik sebagai seorang pemburu, dan aturan moralitas atau agama, namun semua itu hanya sebatas pengetahuan, di dalamnya ia melihat, bahwa dirinya ternyata begitu kosong dan dangkal. Keberadaannya selama ini, adalah identitasnya sebagai seorang pemburu, ia tak mengenal yang lainnya.
Sesekali ia memetik helai demi helai, dan menatap dengan penuh, kenapa ia tak menyadari hal ini sebelumnya, ia bertanya pada dirinya, ia melihat kesibukan dan rutinitasnya telah terlalu menyita perhatiannya. Dalam kehinangan malam, dan sesekali riak air, ia bisa mendengar sayup-sayup suara malam yang terhantarkan bagai salam oleh sang angin, ia pun terhenyak, sekali lagi, ia tak pernah mendengarkan suara malam seperti saat ini, biasanya ia telah terlelap setelah membenahi daging buruannya dan santap malam sebagaimana biasanya.
Terdengar lolongan srigala yang kelaparan tak jauh dari tempatnya berada, secara tiba-tiba ia mengurungkan niatnya memetik daun. Jantungnya mulai berdegup kencang, Lubdaka tahu, pikirannya berkata bahwa jika ia membuat sedikit saja suara, si pemilik lolongan itu bisa saja menghampirinya, dan bisa jadi ia akan mengajak serta keluarga serta kawan-kawannya untuk menunggu mangsa lesat di bawah pohon, walau hingga surya muncul kembali di ufuk Timur. Ia berusaha memelankan napasnya, dan menjernihkan pikirannya. Walau ia dapat memelankan napasnya, namun pikirannya telah melompat ke beberapa skenario kemungkinan kematiannya dan bagaimana sebaiknya lolos dari semua kemungkinan itu. Beberapa saat kemudian, ketenangan malam mulai dapat kembali padanya. Ia mendengarkan beberapa suara serangga malam, yang tadi tak terdengar, ah… ia ingat, ia terlalu ketakutan sehingga sekali lagi tak memperhatikan. Sebuah helaan napas yang panjang, ia masih hidup, dan memikirkan kembali bagaimana ia berencana untuk lolos dari kematian yang terjadi, ia pun tersenyum sendiri, ia cukup aman di sini. Namun Lubdaka melihat mulai melihat sesuatu dalam dirinya, yang dulu ia pandang sambil lalu, sesuatu yang yang ia sebut ketakutan. Lubdaka menyadari bahwa ia memiliki rasa takut ini di dalam dirinya, sesuatu yang bersembunyi di dalam dirinya, ia mulai melihat bahwa ia takut terjatuh dari pohon, ia takut dimangsa hewan buas, bahkan ia takut jika tempat persembunyiannya disadari oleh hewan-hewan yang buas, ia takut tak berjumpa lagi dengan keluarganya. Setidaknya ia tahu saat ini, ia berada di atas sini, karena takut akan tempat yang di bawah sana, tempat di bawah sana mungkin akan memberikan padanya apa yang disebut kematian. Dan ketakutan ini begitu mengganggunya.
Ia kembali memetik sehelai daun dan menjatuhkannya ke mata air, namun secara tak sadar oleh kegugupannya, ia memetik sehelai daun lagi dengan segera, secepat itu juga ia sadar bahwa tangannya telah memetik sehelai daun terlalu cepat. Ia memandangi helaian daun itu, di sinilah ia melihat sesuatu yang sama dengan apa yang ia takutkan, ia melihat dengan jelas sesuatu pada daun itu, sesuatu yang disebut kematian. Daun yang ia pisahkan dari pohonnya kini mengalami kematian, namun daun itu bukan hewan atau manusia, ia tak bisa bersuara untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, ia tak dapat berteriak atau menangis kesakitan, ia hanya … hanya mati, dan itulah apa yang si pemburu lihat ketika itu.
Selama ini Lubdaka selalu melihat hewan-hewan yang berlari dari kematiannya dan yang menjerit kesakitan ketika kematian yang dihantarkan sang pemburu tiba pada mereka, Lubdaka telah mengenal sisi kematian sebagai suatu yang menyakitkan, dan kengerian yang timbul dari pengalamannya akan saksi kematian, telah menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. Ia melihat ia sendiri telah menjadi buruan akan rasa takutnya. Lubdaka telah melihat bentuk kematian di luar sana, termasuk yang kini dalam kepalan tangannya, ia kini masuk ke dalam dirinya, dan ingin melihat kematian di dalam dirinya, namun semua yang ia temukan hanyalah ketakutan akan kematian, ketakutan yang begitu banyak, namun si kematian itu sendiri tak ada, tak nyata kecuali bayangan kematian itu sendiri. Lubdaka pun tersenyum, aku belum bertemu kematian, yang menumpuk di sini hanyalah ketakutan, hal ini begitu menggangguku, aku tak memerlukan semua ini. Lubdaka melihat dengan nyata bahwa ketakutannya sia-sia, ia pun membuang semua itu, kini ia telah membebaskan dirnya dari ketakutan. Ia pun melepas tangkai daun yang mati itu dari genggamanannya, dan jatuh dengan begitu indah di atas permukaan air. Diapun tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam Siva (Siva Ratri). Dimana Siva sedang melakukan tapa brata yoga semadi. Barang siapa pada malam itu melakukan brata (mona brata: tidak berbicara, jagra: Tidak Tidur, upavasa: Tidak makan dan minum) maka mereka akan dibebaskan dari ikatan karma oleh Siva.
Ufuk Timur mulai menunjukkan pijar kemerahan, Lubdaka memandangnya dari celah-celah dedaunan hutan, dalam semalam ia telah melihat begitu banyak hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kini ia telah berkenalan dengan kehidupan dan melepas ketakutan-ketakutannya, ia telah mulai mengenal semua itu dengan mengenal dirinya.
Lubdaka begitu senang ia dapat tetap terjaga walau dengan semua yang ia alami dengan kekalutan dan ketakutan, kini sesuatu yang lama telah padam dalam dirinya, keberadaannya begitu ringan, tak banyak kata yang dapat melukiskan apa yang ia rasakan, begitu hening, sehingga ia bisa merasakan setiap gerak alami kehidupan yang indah ini, setiap tiupan yang dibuat oleh angin, dan setiap terpaan sinar yang menyentuhnya. Kini sang pemburu memulai perjalanannya yang baru bersama kehidupan.
Dia menyadari bahwa berburu bukanlah satu-satunya pilihan untuk menghidupi keluarganya. Setelah dia melewati perenungan di malam tersebut, kesadaran muncul dalam dirinya untuk merubah jalan hidupnya. Dia mulai bercocok tanam, bertani hingga ajal datang menjemputnya.
Saat dia meninggal, Atmanya (Rohnya) menuju sunia loka, bala tentara Sang Suratma (Malaikat yang bertugas menjaga kahyangan) telah datang menjemputnya. Mereka telah menyiapkan catatan hidup dari Lubdaka yang penuh dengan kegiatan Himsa Karma (memati-mati). Namun pada saat yang sama pengikut Siva pun datang menjemput Atma Lubdaka. Mereka menyiapkan kereta emas. Lubdaka menjadi rebutan dari kedua balatentara baik pengikut Sang Suratma maupun pengikut Siva. Ketegangan mulai muncul, semuanya memberikan argumennya masing-masing. Mereka patuh pada perintah atasannya untuk menjemput Atma Sang Lubdaka.
Saat ketegangan memuncak Datanglah Sang Suratma dan Siva. Keduanya kemudian bertatap muka dan berdiskusi. Sang Suratma menunjukkan catatan hidup dari Lubdaka, Lubdaka telah melakukan banyak sekali pembunuhan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan binatang yang telah dibunuhnya, sehingga sudah sepatutnya kalo dia harus dijebloskan ke negara loka.
Siva menjelaskan bahwa; Lubdaka memang betul selama hidupnya banyak melakukan kegiatan pembunuhan, tapi semua itu karena didasari oleh keinginan/niat untuk menghidupi keluarganya. Dan dia telah melakukan tapa brata (mona brata, jagra dan upavasa/puasa) salam Siva Ratri/Malam Siva, sehingga dia dibebaskan dari ikatan karma sebelumnya. Dan sejak malam itu Dia sang Lubdaka menempuh jalan hidup baru sebagai seorang petani. Oleh karena itu Sang Lubdaka sudah sepatutnya menuju Suarga Loka (Sorga). Akhirnya Sang Suratma melepaskan Atma Lubdaka dan menyerahkannya pada Siva. (Kisah ini adalah merupakan Karya Mpu Tanakung, yang sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan Malam Siva Ratri).
Di malam Siva Ratri ada tiga brata yang harus dilakukan:
1. Mona: Tidak Berbicara
2. Jagra: Tidak Tidur
3. Upavasa: Tidak Makan dan Minum
Siva Ratri datang setahun sekali setiap purwani Tilem ke-7 (bulan ke-7) tahun Caka.

Contoh Pupuh Ginada


PUPUH GINADA
Kacrita Sang Arjuna                   8a
Solahnyane sane luwih              8i
Bhakti ring Widhi lan Dewa         8a
Urip anggen tatak patut              8u
Sing taen madaya corah            8a
Ida sakti                                    4u
Stata jaya ring payudan              8a

Pitang taun Welandane               8a
Sayaga angga Dujurit                  8i
Pada srenggeping sanjata          8a
Pasliweng kadi dadalu               8u
Ciung wanara pawata                  8a
Asing prapti                               4u
Nangsek gelar wastu pejah         8a

Dauh tiga I kangkala                  8a
Suradadu nika prapti                  8i
Rauh manangsek gelar              8a
Sane pinaka pangenjur              8u
Wilangennya petang dasa          8a
Sragep sami                             4u
Pak Rani nitah manembak          8a



Pasukanne raris nembak            8a
Welande kagiat paling                8i
Tan polih nangkisang raga          8a
Sami ngemasin lampus              8u
Bangkenyane pajelempang        8a
Tur ngewitin                               4u
Matandi ngensilih tembak           8a

Kapatajeg Sang Hyang Surya     8a
Suradadu nika lilih                      8i
Malayu amurang lampah            8a
Ane kauh lilih kantun                  8u
Ne kelod ngaliwat Marga            8a
Ane kangin                                4u
Ring tukad Sungi Pagrayang       8a

Lilihnya malaib rengas                8a
Kadi kidang kaborosin                8i
I Ciung Wanara galak                  8a
Welanda bengah benguh           8u
Pisarat ngelidang jiwa                8a
Glalang gliling                           4u
Takut tur kajengah jengah           8a

Kamis, 24 September 2015

PURA GUNUNG RAUNG TARO

Pura Gunung Raung

  Pura Gunung Raung berlokasi di desa Taro Kecamatan Tegalalang Kabupaten Gianyar. Pura ini di bangun oleh Maharsi Markandya , seorang yogi dari Gunung Raung. Setelah beberapa lama tinggal di Gunung Raung, dan setelah mendapatkan petunjuk gaib, maka Rsi Markadya melakukan ekspedisi ke Bali dengan membawa 800 orang pengikut.

1. Sejarah Pura
Berdasarkan sejumlah sumber tertulis seperti purana, prasasti, usana, babad, pamancangah dan tatwa, pada jaman dahulu Pura Gunung Raung dibangun berkat kehendak Maharsi Markandeya. Beliau merupakan seorang mahayogi yang sangat utama berasal dari keturunan warga Brgu.
Diceritakan pada jaman dahulu seorang Maharsi yang bernama Maharsi Markandya membangun pertapaan di Gunung Raung Jawa Timur. Maka disuruhlah murid-murid beliau merambas hutan dan membangun pasraman serta pondok-pondok. Di sana beliau tinggal dan bertapa.

 Entah berapa lama beliau tinggal dan bertapa disana, tiba-tiba terlihat sinar menyala menjulang ke angkasa. Pada saat itu terdengar sabda Sang Hyang Jagatnatha di angkasa meminta agar Maharsi Markandeya pergi kearah timur menuju Balipulina 
Tidak diceritakan lebih lanjut kemudian sang Maharsi mengumpulkan para pemimpin desa. Ada keinginan beliau untuk memindahkan atau membuat replika pasraman beliau yang ada di Gunung Raung Jawa Timur. Setelah semua setuju, maka para penduduk membangun tempat suci tersebut. Setelah selesai dan kemudian di upacarai, selanjutnya parahyangan itu diberi nama Parahyangan Gunung Raung. sekarang disebut Pura Agung Gunung Raung.

2. Struktur Pura
Pura Gunung raung memiliki empat buah gapura (pemedal), masing masing berada di empat penjuru mata angin. Pemedal disebelah barat ditujukan untuk Bhatara dari Gunung Raung. Pemedal di sisi utara dan selatan untuk keluar masuk umat. Sedangkan pemedal sisi timur adalah tempat keluar masuk sesuhunan yang berstana di Pura Gunung Raung. Pemedal ini sangat keramat. Pemedal ini dijaga dan diawasi oleh Ida Bhatara Dalem Murwa.
Tidak lama kemudian, murid-murid beliau membangun beberapa palinggih utama, Meru tumpang tiga sebagai stana dari Ida Bhatara Sakti Sesuhunan di Pura Gunung Raung. Kemudian dibangun bale kulkul, kulku (kenongan) hanya dibunyikan saat Ida Bhatara dimohonkan untuk turun dari kahyangan bila akan dilaksanakan upacara melasti. Selanjutnya juga dibangun Bale Agung dengan 11 ruang dan 24 tiang.
Raja-raja di bali yang pernah mengadakan upacara atau memperbaiki kondisi pura antara lain disebutkan, Sri Haji Kesari Warmadewa, Sri Dharma Udayana bersama permaisuri Gunapriya Dharmapatni, Dalem Waturenggong. Raja dari Mangupura juga pernah melakukan pemugaran.
Menurut purana, tunggul Pura Gunung Raung, disebutkan pura Gunung Raung merupakan salah satu pura dang kahyangan.
Desa Pekraman Taro memiliki suatu keyakinan terhadap satwa lembu putih, bahwa lembu tersebut adalah binatang suci yang patu dilindungi dan dikeramatkan, karena dianggap sebagai perwujudan lembu Nandini yaitu tunggangan Dewa Siwa. Oleh karena itu keberadaan lembu tersebut sampai saat ini masih tetap dilestarikan.

Referensi:
Selayang Pandang Kahyangan Jagat Pura gunung Raung dan Karya Agung Panca Wali Krama Penyegjeg Jagat; Desa Pekraman Taro Kaja; 2011

ASTA BRATHA

KEPEMIMPINAN HINDU MENURUT ASTA BRATHA


Asas Kepemimpinan Hindu (Asta Bratha) 
Agama Hindu merupakan suatu agama yang mengandung berbagai aspek kehidupan, salah satu aspeknya adalah mengajarkan mengenai asas kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin Hindu, yang disebut dengan ajaran ASTA BRATHA.

Perkataan Asta Bratha terdiri atas kata “Asta” yang artinya delapan dan “Bratha” yang artinya pegangan atau pedoman. Ajaran Asta Bratha ini terdapat dalam kekawin Ramayana yang diubah oleh pujangga Walmiki dan terdiri atas 10 sloka. Ajaran Asta Bratha ini diturunkan oleh Prabu Rama kepada Wibhisana dalam rangka untuk melanjutkan proses pemerintahan kerajaan Alengka setelah gugurnya Rahwana.

Dalam Sloka pendahulunya menyebutkan tentang sifat Sang Hyang Wihi Wasa yang menjadikan kekuatan bagi umatnya dan menggambarkan tentang kemampuan yang harus dimiliki oleh segenap pemimpin. Dalam Slokanya yang kedua disebutkan bahwa :

Hyang Indra Yama Surya Candranila Kuwera
Banyunagi nahan walu ta sira maka angga
Sang bupati matangyang inisti asta bratha


Artinya :
Dewa Indra, Yama, Surya, Chandra, Anila/Bayu, Kuwera, Baruna dan Agni itulah delapan Dewa yang merupakan badan sang pemimpin, kedelapannya itulah yang merupakan Asta Bratha

1. Indra Bratha,

Seorang pemimpin hendaknya seperti Dewa Indra yang selalu memberikan hujan dan air yang memungkinkan tumbuh dan hidupnya tumbuh-tumbuhan serta makhluk didunia ini, bila direnungkan lebih dalam maka terkandung ajaran bahwa pemimpin itu selalu memikirkan nasib anak buahnya, selalu bekerja untuk mencapai kemakmuran masyarakat secara menyeluruh. Pemimpin dituntut untuk bisa memupuk human relation (hubungan kemanusiaan) guna menegakkan human right (kebenaran dan keadilan).

2. Yama Bratha,

Seorang pemimpin hendaknya seperti Dewa Yama sebagai dewa keadilan dengan menghukum segala perbuatan jahat terkandung bahwa seorang pemimpin haruslah berlaku adil terhadap seluruh pengikut yang ada dengan menghukum segala perbuatan yang jahat dengan menjatuhi hukuman yang sesuai dengan besarnya kesalahan mereka dan menghargai perbuatan yang baik. Apabila pemimpin tidak bersikap adil maka akan timbul krisis kewibawaaan dan anarki dalam menjalankan tugas. Sesuai dengan hukum karma phala maka hukuman tersebut harus bersifat edukatif dimana hukuman yang bertujuan untuk memperbaiki kesalahan, sehingga bawahan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas kewajibannya.

3. Surya Bratha

Surya Brata tersimpul ajaran bahwa seorang pemimpin dalam tugasnya harus dapat memberikan penerangan kepada anak buahnya atau bawahannya serta memberikan kekuatan kepadanya. Bawahan harus diberikan kesadaran akan tanggung jawabnya dan benar-benar menginsyafi tugas yang dipikulnya. Kalau kita perhatikan keadaan sehari-hari, ternyata bahwa matahari itu memancarkan sinarnya ke segala pelosok dunia dan menerangi seluruh alam semesta ini tanpa pandang tempat, rendah dan tinggi. Dengan demikian pemimpin hendaknya tidak jemu-jemu mengadakan hubungan dengan bawahannya sehingga mengetahui benar tentang keadaan anak buahnya atau bawahannya.

4. Candra Bratha

Candra Brata tersimpul bahwa seorang pemimpin diharapkan memberikan penerangan yang sejuk dan nyaman. Seseorang akan menjadi senang dan taat apabila kebutuhannya dapat dipenuhi, baik bersifat material maupun bersifat spiritual. Dalam hubungan dengan pengertian pemenuhan kebutuhan rohani ini, Roger Bellow dalam Creatif Leadership mengemukakan sebagai berikut, Setiap orang pada hakikatnya mempunyai keinginan untuk dihargai dan sebaliknya tidak senang kalau dihina, lebih-lebih hal itu dilakukan di depan khalayak ramai. Untuk menjaga kehormatan diri anak buah, maka sebaliknya peneguran dilakukan ditempat sendiri. Ada keinginan berpartisipasi dalam pekerjaan, setiap orang ingin untuk mencreate sesuatu sehingga dengan bangga dan senang mengatakan , “Inilah hasil saya atau inilah karya dimana saya turut serta mengerjakan”. Keinginan untuk menghilangkan ketegangan. Ketegangan timbul karena seorang pemimpin menimbulkan rasa tidak enak dan tidak senang. Ketegangan ini jika segera diketahui harus segera dihilangkan. Keinginan untuk aktif bekerja dan pekerjaan itu tidak membosankan. Seorang pemimpin harus memperhatikan tugas anak buahnya, dalam waktu tertentu harus ada pergeseran jabatan, sehingga tidak membosankan anak buah.

5. Bayu Bratha

Pemimpin harus dapat mengetahui segala hal ikhwal dan pikiran anak buahnya, sehingga dapat mengerti lebih dalam, terutama dalam kesukaran hidupnya maupun dalam menjalankan tugasnya, namun tidak perlu diketahui oleh anak buah. Dalam manajemen, hal ini dinamakan employee concelling. Dalam Sloka disebutkan “Angin jika mengenai perbuatan-perbuatan (perbuatan-perbuatan yang jahat), hendaknya kamu ketahui akibatnya. Pandanganmu hendaknya baik. Demikian laku Dewa bayu mempunyai sifat luhur dan tidak tamak (oleh siapapun ia dapat dimintai bantuan).”

6. Kuwera Bratha

Pemimpin haruslah dapat memberikan contoh yang baik kepada anak buahnya seperti berpakaian yang rapi sebab pakaian itu besar sekali pengaruhnya terhadap seorang bawahan. Hal lain yang terkandung adalah sebelum seorang pemimpin mengatur orang lain, pemimpin haruslah bisa mengatur dirinya sendiri terlebih dahulu.

7. Baruna Bratha

Seorang pemimpin hendaknya mempunyai pandangan yang luas dan bijaksana didalam menyikapi semua permasalahan yang ada. Pemimpin mau mendengarkan suara hati atau pendapat anak buah dan bisa menyimpulkan secara baik, sehingga dengan demikian bawahan merasa puas dan taat serta mudah digerakkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

8. Agni Bratha

Seorang pemimpin haruslah mempunyai semangat yang berkobar-kobar laksana agni dan dapat pula mengobarkan semangat anak buah yang diarahkan untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa Asta Bratha memuat faktor-faktor dalam Human Relation untuk mengarahkan seorang pemimpin dalam memandang bawahannya sebagai manusia budaya bukan manusia mesin. Memberikan kesenangan spiritual dan material yang adil, yang mempunyai inti sari dari keadilan sosial dan ajaran Tat Tvam Asi.

SAD RIPU

Bagian-Bagian SAD RIPU Beserta Contohnya

A. Pengertian Sad Ripu
Sad ripu berasal dari kata sad yang berarti enam dan ripu yang berarti musuh. Jadi secara harafiah, Sad Ripu memiliki arti enam musuh. Musuh yang dimaksud adalah musuh yang berasal atau bersumber dari dalam diri manusia sendiri. Sebagaimana tercantum dalam kekawin Ramayana, Bab I (Wirama Sronca), bait 4 sebagai berikut :
“Ragadi musuh mepareng
Rihati ya tongwanya tan madoh riawak
Yeka tan hana ri sira
Prawira wihikan sireng niti”

Artinya :
Keinginan (kama) dan semua jenis musuh yang terdekat yang ada di dalam hati (Pikiran) tempatnya tidak jauh dari badan sendiri
Yang semacam itu tidak ada dalam diri beliau (Dasarata) sifat ksatria yang dimilikinya,serta pintar dalam menjalankan pemerintahaan
Sesungguhnya Sad Ripu tersebut bibitnya telah terbawa bersamaan dengan karma wesana sejak kelahiran. Demikian juga Sad Ripu akan selalu muncul akibat perpaduan dari Tri Guna, terutama pada sifat Rajas dan Tamas, hal inipun akibat rangsangan benda-benda dan pengaruh lingkungan hidupnya. Maka wiweka-pengetahuan disertai dengan sifat satwam lah sebagai pengendalinya. Perpaduan rajas dan tamas sebagai perangsang munculnya Sad Ripu yang tak bisa diredam dengan satwam dan dharma akan menghasilkan asubha karma (perbuatan buruk), namun sebaliknya apabila dapat diatasi dengan Satwam dan Dharma, yang muncul adalah subha karma ( perbuatan baik). Sebagaimana dijelaskan dalam petikan kekawinan Ramayana di atas, bahwa semuanya bersumber dari diri kita sendiri, kuncinya tergantung dari kemampuan, pengetahuan, dan pikiran untuk mengatasi dan mengarahkannya.

B. Bagian Sad Ripu
Bagian-bagian dari Sad Ripu atau enam musuh yang ada dalam diri manusia, yaitu:
1. Kama
Kama artinya keinginan atau hawa nafsu. Kama sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan, kama dapat mempengaruhi pikiran. Rangsangan yang kuat akan menarik kama dan mempengaruhi pikiran. Bila tidak memiliki kemampuan atau pengetahuan untuk mengatasinya, maka sifat-sifat buruk lah yang akan muncul yang berakibat buruk pula terhadap diri sendiri. Kama yang tidak terkendali ini akan muncul sebagai musuh. Namun sebaliknya, kama akan berfungsi sebagai sahabat apabila dapat dikendalikan atau disalurkan kepada hal-hal yang bersifat dharma/kebenaran.
Manusia kama Benar = sahabat
Buruk = musuh
2. Lobha
Lobha berasal dari kata lubh yang berarti tamak, rakus.
Rakus merupakan sifat senang yang berlebihan dan tidak terkendali, sifat yang selalu ingin dipuaskan, sifat yang ingin mementingkan diri sendiri. Sifat-sifat seperti ini dimiliki oleh setiap orang, apabila kemunculan sifat ini tidak dikendalikan dengan pengetahuan dharma, tidak memiliki rasa welas asih, tatwam asi, dan satya, maka lobha seperti ini akan menjadi musuh. Ia akan mendatangkan rasa benci, rasa cemburu, rasa dendam, sehingga menimbulkan rasa gelisah, kurang aman, dan was-was. Biasanya lobha akan tumbuh dengan kuat akibat kama yang selalu terpenuhi.
Manusia kama = lobha
3. Krodha
Krodha artinya marah. Krodha muncul diawali oleh ketidakpuasan, rasa kecewa, rasa dendam, dan rasa terhina. Krodha sangat mempengaruhi konsentrasi, rasa kesadaran, dan merusak keseimbangan serta kesucian bathin. Krodha yang tidak terkendali dapat memacu denyut jantung, merusak kerja syaraf sehingga sulitr berpikir tenang dan rasional, membuat syaraf tegang. Apabila terus-menerus seperti itu, syaraf-syaraf akan putus yang mengakibatkan stroke hingga kematian. Krodha juga dapat muncul akibat minuman keras. Krodha muncul bukan karena rangsangan dari luar, seperti kecewa, dendam dan sebagainya. Tetapi kemunculannya akibat pengaruh yang dibuat dari dalam. Miras sangat mengganggu fungsi kerja syaraf, miras sangat merusak kecerdasan, ketenangan dan konsentrasi. Cara untuk mengatasi Krodha adalah dengan pengetahuan, kemampuan, dan kesadaran diri, serta hindari mengkonsumsi miras. Alihkan perasaan kecewa, dendam dan rasa tidak puas kepada rasa jengah untuk memacu diri dalam meraih kesuksesan, tapi harus berlandaskan dengan dharma (kebenaran).
Manusia Kama Tak terpenuhi = krodha
Pengaruh miras = krodha
4. Mada
Mada artinya mabuk/kemabukan, kemabukan dapat muncul dari dalam diri sendiri. Kama (keinginan) yang selalu terpenuhi menyebabkan lobha tak terkendali, hal ini dapat memunculkan mada dengan jenis yang beraneka ragam seperti berikut :
• Merasa diri paling rupawan (cantik/ganteng) karena mabuk akan kerupawanan wajahnya (surupa) ia seringkali menghina atau melecehkan orang lain.
• Merasa diri kaya raya karena banyak memiliki harta benda dan uang. Ia selalu menggunakan uang dan harta sekehendak hatinya untuk menghina, mengejek, dan menghancurkan orang lain. Karena memiliki banyak harta, ia merasa paling mampu dan lupa bahwa semua harta hanyalah titipan sementara.
• Merasa diri paling pintar (guna), selalu menganggap orang lain bodoh dan tidak mampu. Mereka yang meras pintar biasanya akan menjadi sombong.
• Merasa diri punya jabatan atau merasa diri seorang bangsawan sehingga membuat dirinya menjadi sombong, seolah-olah dialah yang dapat mengatur segala-segalanya. Karena kemabukan ia menjadi lupa bahwa ia sesungguhnya berasal dari rakyat biasa, jabatan itu sifatnya sementara dan kebangsawanan tiada arti tanpa orang lain yang menghormati kebangsawanan seseorang.
• Merasa diri muda/remaja dengan tenaga yang kuat (yowana). Ia lupa bahwa sastra agama menyebutkan “masa kecil akan menunggu masa remaja, dan remaja, tua lah yang dinanti. Sedangkan masa tua hanya kematian lah yang menunggu. Maka dari itu janganlah mabuk masa remaja, manfaatkanlah keremajaan untuk mengisi diri mempersiapkan masa tua dengan sebaik-baiknya berdasarkan dharma.
• Merasa selalu percaya diri akibat pengaruh minuman berakohol atau minuman keras yang akan merusak syaraf, merusak ingatan, merusak kesehatan pencernaan, ginjal, hati, dan jantung. Akibat minum minuman keras yang paling sering terjadi adalah timbulnya kekerasan dan tindak criminal.
• Merasa diri selalu menang dan berani. Sering kali mereka yang menang dalam seuatu peristiwa merasa sombong, mabuk akan kemenangan dan keberanian.
5. Matsarya
Matsarya artinya iri hati. Iri hati, cemburu, seringkali muncul akibat dari kekecewaan, ketidakpuasan, ketidakadilan, dan kegagalan dalam menghadapi suatu peristiwa. Di satu pihak ada yang berhasil dengan mudah, sedangkan di pihak lain mengalami kegagalan dan hambatan. Sehingga pihak yang gagal merasa kecewa. Kegagalan yang diakibatkan oleh ketidakadilan akan menimbulkan perasaan iri hati. Iri hati merupakan akumulasi dari krodha, bila berkelanjutan akan menimbulkan rasa dendam, benci, dan permusuhan. Matsarya dapat diredam dengan kesabaran dan kepasrahan. Bahwa hidup ini adalah cobaan, takdir, dan karma wasana.
Krodha Matsarya kecewa-dengki-iri hati
Dendam-permusuhan-balas dendam
6. Moha
Moha artinya bingung. Kebingungan tidak dapat menentukan sikap, karena kebuntuan otak dalam berpikir, kecerdasan hilang, orang tak tahu arah, tak tahu mana yang benar dan salah, tak tahu mana yang baik mana yang buruk, tak tahu mana yang berguna dan yang tidak berguna, kebingungan menghambat segala-galanya. Ada beberapa sumber penyebab timbulnya kebingungan antara lain sebagai berikut :
• Akibat kemabukan, baik itu karena keberhasilan yang berlebihan maupun akibat pengaruh minuman keras.
• Akibat kegagalan/kekecewaan yang bertubi-tubi secara silih berganti.
C. Contoh Prilaku yang Berkaitan dengan Sad Ripu
Di bawah ini adalah contoh-contoh yang berhubungan dengan Sad Ripu :
1) Kama
Kama dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
• Kama yang berlebihan dan tak terkendali, sehingga dapat mendatangkan musuh, baik dalam diri sendiri maupun dari luar, seperti :
 Dari dalam : keinginan untuk memiliki motor baru tapi tidak mampu, orang tua hanya buruh harian yang gajinya sangat kecil, sedangkan dia sendiri hidupnya masih tergantung orang tua, keinginan yang besar tersebut tidak kesampaian, membuatnya menjadi stress, sakit, pusing, dan tak ada gairah.
 Dari luar : keinginannya yang besar dan tak terkendali, membuat ia berani mengambil barang milik orang lain, akhirnya ia dibenci, dicemooh bahkan dijauhi teman-teman, bila sampai tingkat kriminal ia pun dapat dipenjara.
• Kama, keinginan yang dapat diredam/dikendalikan (bersifat positif), dengan kesadaran bahwa keinginan sesungguhnya memperbudak pikiran, agar tidak diperbudak arhkan pada hal yang positif, antara lain.
 Sadari kemampuan diri sendiri atau keluarga.
 Sesuaikan keperluan dan kebutuhan.
 Perhitungkan untung, rugi, dan manfaat.
 Kenali diri sendiri secara untuh.
2) Lobha
Lobha atau rakus/ ingin memuaskan diri sendiri, tanpa menghiraukan hak-hak dan kepentingan orang lain. Biasanya lobha akan terus berlanjut atau bertambah kuat jika kita tidak mampu menghalangi atau menghentikannya. Prilaku seperti ini dapat dijumpai pada mereka yang sering melakukan korupsi, pungli, rentenir, percaloan, mereka yang demikian tak akan mau mengerti dan memiliki rasa iba terhadap penderitaan orang lain.
Perilaku lobha seseorang akan dapat dikurangi dengan hal berikut :
 Tumbuhkan kesadaran yang mendalam dari dalam dirinya.
 Menyaksikan keluarga sendiri atau bahkan merasakan secara langsung penderitaan akibat diperlakukan oleh tindakan lobha.
 Memahami dengan penuh keyakinan tentang hukum karma.
3) Krodha
Krodha merupakan prilaku negatif yang paling cepat mendatangkan musuh. Mereka yang dikuasai krodha sangat sulit menenangkan diri, menstabilkan pikiran, dan bahkan sulit mengontrol diri sendiri. Orang yang berbeda pandangan,berbeda pendapat,dan berbeda kepentingan akan dianggap musuh. Beberapa prilaku yang dapat memancing krodha adalah sebagai berikut :
a) Bersumber dari ucapan (wasista nimitanta menemu dukha),seperti ejekan,hinaan,cemoohan,olokan dan gertakan.
b) Bersumber dari mimik, seperti mencibir dan membuat bentuk mulut yang dapat mengundang krodha.
c) Dengan tatapan mata, misalnya mata merah dengan muka masam dan mata melotot disertai muka merah.
4) Mada
Mada artinya mabuk atau membanggakan diri, seperti:
 Merasa diri ganteng atau cantik, timbul perilaku sombong.
 Merasa diri selalu beruntung dan hidup kaya raya.
 Merasa diri pintar, otak cerdas, berpendidikan tinggi, dan banyak memiliki pengetahuan serta pengalaman.
 Merasa diri sebagai orang ningrat, keturunan bangsawan, punya jabatan tinggi, sehingga mereka selalu ingin dihargai dan dihormati tanpa menghormati orang lain karena mersa kedudukan mereka lebih tinggi.
 Merasa diri selagi muda, masih remaja, disayang dan dimanja orang tua.
 Akibat pengaruh minuman keras dan narkoba, membuat keseimbangan terganggu, ingatan tak terkontrol, ucapan dan tindakan ngawur serta pikiran tidak waras.
5) Moha
Moha memiliki arti kebingungan. Kebingungan dapat disebabkan oleh bermcam-macam hal, seperti:
 Karena mendapatkan masalah yang berat sehingga menyebabkan kebingungan.
 Kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai yang menyebabkan kebingungan bahkan kehilangan arah.
6) Matsarya
Matsarya memiliki arti iri hati. Iri hati akan menyiksa diri sendiri dan dapat merugikan orang lain. Orang yang matsarya merasa hidupnya susah, miskin, bernasib sial, sehingga akan menyiksa batinnya sendiri. Selain itu bila iri terhadap kepunyaan orang lain maka akan menimbulkan rasa ingin memusuhi, berniat jahat, melawan dan bertengkar, menyakiti, sehingga akan merugikan orang lain. Matsarya timbul karena berbagai hal, seperti:
 Merasa diri paling mampu atau pintar dibanding dengan orang lain. Namun, apabila orang tersebut lebih sukses atau berhasil akan menimbulkan rasa iri hati.
 Merasa hidup orang lain lebih beruntung daripada diri kita sendiri, sehingga menimbulkan rasa iri hati.
D. Dampak yang Ditimbulkan oleh Sad Ripu
Sad Ripu dapat berakibat buruk, berbahaya bagi keselamatan, ketenangan, ketentraman, kesehatan, kebahagiaan, dan kecerdasan. Umat Hindu memiliki cara tersendiri untuk mengatasi Sad Ripu, antara lain :
 Upacara Agama Manusa Yadnya, terutama potong gigi, sebagai simbol untuk mengingat bahwa musuh itu bersumber dari diri sendiri dan harus diatasi dan dilemahkan agar tidak menguasai diri sendiri.
 Memperdalam dan mengamalkan ajaran kesusilaan, terutama Tri Kaya Parisudha, Panca Yama dan Panca Nyama Brata, Catur Praweti, Catur Paramita, serta ajaran karma phala.
 Melalui cerita-cerita, seperti cerita sudamala, bhatara, kala, dyah tantri, Sutasoma.