Translate

Selasa, 02 Desember 2014

Hari Raya Galungan dan Kuningan

Hari Raya Galungan dan Kuningan


Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan
pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede
Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada
lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu
dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.
 Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan
pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi.
Dalam lontar itu disebutkan:
Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana
ikang Bali rajya.
 Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama
adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih
kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali
bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan
kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan
hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga
belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan,
konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan
dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat
pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran
mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya,
Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya —
artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura
Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan
religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa.
Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak
lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali
merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu
disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum
Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu
upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan
lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan
lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.  

Makna Filosofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual
agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama,
Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang  janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa
byapaning idep  
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang
terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
 Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang.
Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran
itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.
 Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum
Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar.
Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada
hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa
pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa,
karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing
tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga
tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan
menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri.
Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah
pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha
Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan
dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga
dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga
samadhi.”
  Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah
dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban.
Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada
pada diri.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis
wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat
pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama
yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini,  dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupakadirghayusaan yaitu hidup sehat  panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata. 
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan
upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan
Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut
Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya
dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah
hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).
Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.
 Macam-macam Galungan
Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan
dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan
dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel),
Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Galungan
Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma.
Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya,
Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
 Galungan Nadi
Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka.  Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah
dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa
kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih
semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan
purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping karena ada keyakinan
bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya
terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap).
Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini
datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
 Galungan Nara Mangsa
Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar
Sundarigama disebutkan sebagai berikut:  
“Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa
ngaran.”
 Artinya:
Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih
Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:
Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali,
poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu,
anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan
wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan
mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu
sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih
Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru
wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran
keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya
manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.
Artinya:
Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang)
kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak
lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan
dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan
itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya,
bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen
yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih
Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih
kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya.
Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen
caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak
mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya
bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta
turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu
adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak
dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng
Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat  dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan
bercampur keladi.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan
dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan
antara aharma melawan adharma. Dharma dilambangkan ebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh
Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada
keutamaan upacara agama.  
Galungan di India
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan
juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia
mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari
kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua
kata itu artinya “menang”.  
Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan,
kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.
 Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang
sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.
 Parayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.
 Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa
Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan
keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai,
keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan
hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri
Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang
memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa
dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.
Sumber:
Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

KESUCIAN JIWA MANUSIA

18032010
Om Awignam Astu namah sidam
Om anabadrah kratawayantu wiswatah
Om Suastyastu
Para pinandita sami yang saya muliakan
Ketua lembaga-lembaga Hindu beserta jajaran baik tingkat propinsi maupun kota Makassar yang saya hormati
Umat sedarma yang sempat hadir mengikuti persembahyangan tilem kesanga pada sore menjelang malam hari ini.
Angayu bagia kita panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi wasa karena kita telah diberikan waranugraha berupa kesehatan kedamaian dan kesejahteraan sehingga kita bisa hadir di pura yang kita sucikan ini bersama-sama untuk melakukan persembahyangan dalam rangka rangkaian taur kesanga malam hari ini.
Rasa syukur itu akan lebih lengkap lagi karena hari ini kita bisa melaksanakan taur kesanga semoga besok kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani hari yang sangat istimewa dan membahagiakan karena akan menjalankan catur berata penyepian.
Kenapa saya katakan membahagiakan karena besok merupakan momen khusus yang diberikan kepada kita yang terlahir sebagai manusia untuk melakukan peningkatan kwalitas kemanusiaannya.
Sarasamuscaya sloka 4. menyatakan bahwa Apan iking dadi wang , utama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sang sara makasadhanang subhakarma hinganing kottamamning dadi wang ika. Artinya: Menjelma menjadi manusia ini adalah, sungguh utama, sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.
Jadi sloka ini memberikan peringatan kepada kita semua bahwa kita punya missi dalam kehidupan ini berupa memperbaiki karma-karma yang dahulu kurang baik agar hidup didunia santi di alam sunia manunggal(moksa). Dan juga dalam Lontar Siwagama Tatwadituliskan sabda Siwa : Yan ana wang lampus tan padiksa tan wenang mewali ring bapa meme. (Kalau ada orang mati tidak suci maka ia tidak bisa ketemu meme bapa.)
Makanya untuk menjalankan missi itu kita agar di akhir hidup kita bisa menyatu dengan Tuhan maka kita umat Hindu dibekali petunjuk hidup (way of life atau direction for use= kalau itu barang/produk) berupa agama agama bukan beban. Jadi agama itu adalah petunjuk hidup (kompas), sesuluh penerang/atau cermin. Agama bukan beban. Sloka 9. Sarasamuscaya menyatakan: yo durlabhataram prapya manusyam lobhato narah darmavamanta kamatma bavet sakalavancitah. (Bila ada yang beroleh kesempatan menjadi orang (manusia) ingkar akan pelaksanaan dharma, sebaliknya amat suka ia mengejar harta dan kepuasan nafsu serta berhati tamak, orang itu disebut kesasar, tersesat dari jalan yang benar).
Dalam hal ini kita masuk klasifikasi yang mana? Bagaimana agar hidup tidak sesat ? seperti yang disebutkan diatas. Apalagi di tengah zaman yang kaliyuga ini. Hindu memberi tuntunan kepada umatnya dengan salah satu tuntunannya dengan pelaksanaan melis, tawur dan catur berata penyepian yang dituliskan dalam lontar Sundarigama dan susastra suci lainnya. Pada hari Minggu, tanggal 14 Maret 2010, kemarin kita melakukan melasti. Kata  Melasti, terdiri atas mala = kotoran, penyakit; dan  asti = membuang. Jadi  melasti = membuang kotoran.
Kenapa kita melakukan melasti dan untuk siapa melasti itu?
Bapak ibu adik-adik umat sedarma yang saya cintai…
Melasti itu bertujuan membersihkan linggih Ida Betara atau Pratima (bukan Betara-nya), Batara atau Tuhan tidak kotor, Beliau sangat suci. Yang disucikan adalah sarana yang digunakan seluruhnya. Apa lagi yang dibersihkan ?Selain sarana itu bapak/ibu…….. Jangan lupa diri kita atau anggasarira juga perlu disucikan. Kenapa kita bersihkan diri kita? Karena dalam diri kita juga tempat Tuhan/Ida Shang Hyang Widhi bersemayam yang kita sebut pramaatman. Dalam Bagawatgita disebutkan : Salu idam kalu brahman = Tuhan bersemayam dalam diri setiap mahluk hidup. Supaya Tuhan bersemayam maka kita bersihkan diri kita dengan air laut. Kalau tdk kita bersihkan di situlah akan bersemayam para bhuta cakil.
Karena tubuh manusia terbuat dari unsur pancamahabhuta, maka manusia sangat mudah dipengaruhi bhuta maka prilaku kita lebih gampang berbuat jahat, jelek ketimbang baik apa lagi disertai kebodohan ibarat daun dibiarkan berserakan tidak bagus, disampul kumpulkan gambang diterbangkan angin sehingga mudah terhambur, dipaksa diikat juga susah kalau bisa diikat dia juga remuk, robek. Terjemahkan lebih lanjut Kenapa harus ke samudra : sam = kumpulan mudra air samudra=kumpulan air (laut, sungai campuan, danau dll).
Kenapa di samudra? Iya, karena sang Hyang Aji Baruna itu adalah Dewa Pengasih dan Penyayang yang rela mensucikan umatnya (maka adik-adik remaja khususnya jangan sibuk dengan valentin hari kasih sayang, kita juga punya dewa baik hati pemurah hyang baruna selain Betara Indra. Maka banyak kadang-kadang orang melakukan melarung sesuatu ke segara setelah mengalami kemalangan/kemalaan sering kita tonton di televisi.
Di samping itu di samudra diyakini tempatnya tirta sanjivani tirta amerta sanjiwani yang maha dasyat yang dapat kita buktikan dari keperkasaan ular yang selalu berganti kulit tidak mati-mati karena dapat menjilat tirta sanjivani. Jadi melasti bertujuan mensucikan diri secara sekala dengan mandi/mencuci badan/ upacara pensucian secara niskala. Oleh sebab itu saya mengajak umat yang akan menjalankan catur berata penyepian seyogyanya mengikuti upacara melasti ini agar rangkaian ini menjadi lebih sempurna kalau belum sempat ikut tahun ini berjanjilah dalam diri tahun depan untuk menyiapkan diri lebih baik.
Orang lain yang tidak mengerti nyepi kadang mempraktikan ini buktinya sebelum menjalankan berata puasa pergi mandi ke sungai dan kelaut. Makanya kita sebagai umat hindu harus bangga dengan kesempurnaan ajaran agama kita.kenapa justru kita sebagai umat Hindu tdk mau mengorbankan sedikit waktu untuk menjalankan upacara ini kepada umat yang kemarin sudah hadir berpartisipasi kami mucapkan terimakasih. Bapak ibu umat sedarma yang berbahagia Kalau kemarin kita telah mensucikan di Hari ini tepatnya tadi siang kita juga telah mensucikan ke tiga unsur alam ; Bhur loka/alam bawah, buah loka/angkasa,swah/alam dewa = pensucian alam dengan pencaruan di tengah natah, halaman, perempatan sebagai poros bumi. Kita mensucikan ke tiga unsur alam agar energi negatif itu tidak mempengaruhi manusia dan bapak ibu juga sebentar menghaturkan caru dirumah masing-masing di tengah pekarangannya/halaman.
Bagaimana bapak ibu ngaturan caru tidak usah repot-repot apa lagi ibu bapak adik yang baru belajar Hindu . cukup letakan banten carunya ditengah halaman warnanya sesuai letak panca mahadewa putih timur hitam arah selatan dan selanjutnya di ketiskan tirta, ayabang itu sudah cukup karena banten adalah bahasa weda. Maka jangan beragama itu dikatakan susah mau belajar sedikit saja gampang. Jangan nyimpan warnanyaterbalik.putih di barat merah diselatan.
Jangan mebanten pakai HP……. Bapak ibu saudara-saudara umat sedarma .. Besok kita akan menjalankan catur berata penyepian untuk apa itu… Diatas sudah saya uraikan tadi bahwa kita perlu menjalankan visi, missi sebagai umat dengan benar. Kalau mau benar maka kendali kehidupan itu harus benar, yaitu sang pikiran : Sloka 79 SarasamuscayaManasa nicayamkriva tato vaca vidhyate, kriyate karmana paccat pradhanam vai manastatah (PIKIRAN UNSUR MENENTUKAN, JIKA PENENTUAN PERASAAN HATI TELAH TERJADI, MAKA MULAILAH ORANG BERKATA ATAU MELAKUKAN PERBUATAN OLEH KARENA ITU PIKIRANLAH YANG MENJADI POKOK SUMBERNYA).
Manawa Dharmasastra: Sloka 88 menyatakan: Indriyanam wisaratam wisyewapaharisu sanyame yatnam alisthe dwidwanyantewa wajinam (Seperti halnya seorang mengendalikan keretanya demikian orang bijaksana hendaknya ia berusaha mengendalikan idriyananya buas karena pengarus pantasi yang diberi oleh benda –benda jasmani). Sloka 90 Manawa Dharmasastra:  Crotram twak caksusi jihwa nasika caiwa pancami payupastham hartapadham wak caiwa dacani smrtah. (Telinga, kulit, mata lidah dan hidung kelima macam nya dan lainnya yaitu anus, alat kelamin, tangan kaki dan mulut dimaksud sebagai indria kesepuluh). Dalam Sloka 92 pikiran yang dimaksudkan sebagai indria yang kesebelas yang harus ditundukan.
Setelah badan disucikan alam dan lingkungan disucikan maka mulailah mensucikan diri dengan catur berata penyepian : Upawasa Amati lelanguan Amati lelungan Amati karya Amati geni karena kesebelas indria tadi berkait erat dengan ke empat unsur diatas maka pada saat nyepi dilarang-berata. upawasa= puasa adalah tidak ada keinginan untuk makan (ada makanan, ada nafsu, ada waktu) Lucukan.
Upawasa punya makna : – Filosofis. – Harfiah upawasa = membersihkan fisik secara sekala tdk makan tdk ada metabolisme tidak ada sisa/kotoran tubuh bersih dari sisa kotoran berupa bahan racun yang tidak berguna ini berguna bagi kesehatan. Apa benar makanan/minum yang kita makan mempengaruhi mengotori fisik/pikiran kita : contoh ada orang peliara kucit tinggal dibelakang penjual sate kambing, tiap sore – kucitnya dikasi kuah soto kambing bekas penjual soto setelah kucitnya besar kemudian dipotong apa yang terjadi setelah dimasak dagingnya itu ternyata daging kucit rasa kambing. Contoh lain : Ada kakek-kakek doyan nampah kuluk . setiap kakek itu itu keluar dari rumahnya selalu ramai anjing mengonggong sang kakek bahkan sampai pernah digigit anjing.
Kenapa begitu ternyata makanan yang dimakan itu mempengaruhi kimiawi tubuhnya sehingga bau pekak itu keringatnya sepeti bau kuluk. Anjing itu mengira pekak itu adalah kuluk. Sehingga digonggongnya mungkin anjingnya berpikir kok ada teman saya model lain . Dalam kisah Berata yuda juga diriwayatkan bahwa guru drona hilang akal ketika melihat dewi drupadi ditelanjangi oleh karena ia ketika itu ikut makan makanan yang tidak sadwik yang diberikan oleh keluarga korawa dan ketika menjelang kematianmnya ketika darahnya menjelang habis akibat tusukan panah baru ia sadar kembali akan kekeliruannya yang lalu.
Makna filosopis. Kemudian yang lain dengan puasa juga merupakan laboratorium untuk melatih kepekaan sosial manusia. Orang yang tidak pernah lapar tidak bisa merasakan lapar bagaimana bisa ia merasakan, menghayati, berempati penderitaan orang lapar. karena itu kalau kita puasa akan merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita yang kelaparan. Sehingga timbul kepekaan sosial untuk menolong sesama karena rasa lapar itu universal. Ada kata-kata mutiara yang ditulis dala niti santaka “ dari penderitaan lahir kebijaksanaan” Jadi membantu orang jangan hanya saat nyepi/ setahun sekali karena orang lapar setiap hari kalau membantu setahun sekali inilah yang menyebabkan alam ini tidak santi.
Berapa lama kita mulai upawasa adalah mulai dari terbitnya mata hari sampai terbitnya mata hari pada hari berikutnya. Karena kalau pakai jam jam bisa macet kalau matahari tdk akan ada macetnya. Apa yang dilakukan selain upawasa : Amati lelanguan, Amati lelungan, Amati karya, Amati geni.
 Amati geni : bukan mati total tetapi dikendalikan api yang baik dipelihara, api yang tidak baik dipadamkan. Harfiah ; gelap begitulah kalau nanti kita sudah mati gelap jadi kita sudah diberi signal alarm kalau sudah mati maka sebelum mati diberi adaptasi dan orientasi maka cepat sadar sekarang sebelum kematian itu datang. Filosofi : Dari gelap bisa tidak melihat, kalau sudah gelap rangsangan terhadap indria kita terutama mata ini menjadi berkurang sehingga pengemdalian pikiran menjadi lebih mudah.
Di samping itu untuk melihat terang harus dari kegelapan, makanya ibarat naik mobil kalau diruang/kabin kemudi itu terang kita bisa melihat jelas. Jadi kalau kabin kemudi terang kita tidak bisa melihat jalan dihadapan kita (silau) terang ini maknanyya yang lebih dalam dari kesalahan bisa kita melihat kebenaran oleh sebab itu umat sedarma yang budiman yang dikasihi ida sang hyang widhi wasa. Kalau selama ini kita pernah punya pikiran perkataan yang perbuatan yang kelam/seperti pekatnya malam maka segera sadari dan perbaiki, ini misalsaja : kadang mungkin ada bapak yang selalu memarahi istrinya tanpa sebab yang jelas atau sebaliknya, ada yang tidak jujur pada suami dan istri dll mari momen nyepi ini jadikan kilas balik untuk introspeksi diri. bisa hidup kabur salah benar kita tidak bisa nilai, Agar lebih konsentrasi lagi.Agar pikiran bisa tenang Bayu, sabda harus dikendalikan dengan tdk menjalankan lelanguan, lelungan, bayu karya, idep = kesadaran dikendalikan amati geni
Mana mungkin pasang head set di kumping melakukan self evaluasi, manamungkin samping menggergaji kayu. Nyetir mobil merenung, mana mungkin sambil menyebrang jalan melakukan self evaluasi mulat sarira. Karena pada prinsipnya kalau salah satu unsur indria kita aktif maka yang lain akan pasif. Kuping aktif, mulut pasif mulut aktif kuping pasif.
Makanya kalau ada orang ngomong kuping yang kencang dan cepat yang mendengar akan susah ngomong karena kipingnya dipaksa aktif oleh lawan bicaranya. Makanya dilarang menikmati lelanguan audio/vidio. Oleh sebab itu mari kita belajar mencoba meningkatkan kwalitas hidup kita melalui peningkatan kwalitas catur berata penyepian ini. Sehingga kesucian jiwa, perkataan , perbuatan kita selanjutnya tercipta sehingga pada saat ngembak geni timbul energi ageni baru dalam kehidupan.
Apa cirinya kalau mereka berhasil menjalankan catur berata penyepian. Ada tiga ukuran yang dapat dijadikan indikator : – Kwalitas bakti kepada widhi akan lebih baik – Tresna ring umat sedarma = senang menolong – Asih ring sarwa prani = menyayangi semua mahluk hidup dan alam lingkungannya. Semankin sering menjalankan penyepian maka kwalitas bakti, tresne, asih akan semakin baik sehingga tercipta umat hindu yang beradab dan berbudaya, masyarakat yang religius. Kalau setelah pelaksanaan catur berata penyepian tidak ada peningkatan kwalitas itu maka itu hanya dapat kebagaian mekente saja/ atau lapar saja. Apa lagi setelah nyepi lantas jorjoran melakukan yang keren sekarang open haus, sampai menggadaikan barang hanya untuk membeli makanan /atau berhari raya malah hanya meramaiakan mall ini lebih keliru lagi kalau tidak mau dikatakan sesat tak ubahnya beragama sepertti ombak laut…. apa artinya ramai dipermukaan tetapi hakekatnya didalamnya kosong, mari kita balik sepi tapi berkwalitas. . Asimilasi budaya boleh tetapi pilih dan pilah mana budaya yang sesuai dengan ajaran agama.
Coba kita renungkan baik-baik apa gunanya puasa kalau setelah puasa malah mengumbar nafsu kembali besoknya, makanya tidak mencapai ke santian. Sarasamuscaya 8. Manusyam durlabham prapya vidyullasitacancalam, bhavaksaye, matih karya bhavopakaranesu ca. Manusam durlabam prapya widyulasitacancalam, bawaksaye, matih karya bawopakaranesu ca.( Kelahiran menjadi orang (manusia) pendek dan cepat keadaanya itu, tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh. Oleh karena itu gunakanlah sebaik-sebaiknya kesempatan menjadi manusia itu untuk melakukan penunaian darma yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga. dan kepuasan nafsu serta berhati tamak, orang itu disebut kesasar, tersesat dari jalan yang benar).
Oleh sebab itu saya menghimbau mulai dari sekarang tingkatkan kwalitas keagamaan kita apa lagi bagi saudara yang seusia dengan saya kalau kita tidak mulai dari sekarang kita bisa-bisa berutang kalau menggunakan rumus matematika usia harapan hidup 75 tahun kita sudah hidup 50 tahun punya kesempatan investasi 25 tahun lagi apakah 25 tahun bisa break event point usia yang kita lewatkan oleh sebab itu mari sama-sama bergabung di tempekan untuk sama –sama membelajarkan diri. Setelah menjalankan catur berata penyepian mari nanti bersimne krama tanggal 27 Maret memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia di genung serbaguna kita pkl 09 pagi
Bapak ibu umat sedarma yang saya hormati ….
Banyak sudah yang saya sampaikan tentu ada lebih dan kurangnya oleh sebab itu maka apa bila ada salah kata saya mohon maaf.  Atas nama seluruh lembaga Hindu tk propinsi dan kota Makassar saya mewakili mengucapkan selamat menjalankan catur berata penyepian dan selamat tahun baru caka 1932 16 maret 2010.
Semoga damai selalu Om santi santi santi om
I Made Sukarta
PHDI Kota Makassar.
Sumber : Menawe darma sastra Gde Pudja MA dkk
Sarasamuscaya Kutipan lon tar siwagama tatwa
Kutipan lontar sundarigama Itihasa Beratayuda



MELAYANI DALAM KONSEP HINDU

1032010
OM AWIGNHAM ASTU NAMA SIDHAM
OM ANOBHADRAH KRATAWO YANTU WISWATAH
OM SUASTYASTU
Para pinandita yang saya sucikan, bapak-bapak/ibu-ibu serta adik-adik yang saya hormati dan saya kasihi. Marilah kita tak pernah henti untuk memanjatkan puja dan puji syukur Anghayubahagia kehadapan Ide Hyang Widhi Wasa. Atas segala karunia dan kasih-Nya sehingga kita masih bisa hadir ditempat yang kita sucikan ini pada persembahyangan  Tilem hari ini.
Pada kesempatan ini saya diberi mandat oleh PHDI kota Makassar untuk membawakan Dharma Wacana dengan judul “Melayani Dalam Konsep Hindu“ melayani dalam Hindu adalah sebuah keharusan. Karena untuk dapat menjalankan  Karma Yoga dengan baik maka melayani (seva) harus dilakukan. Barang siapa yang tidak mau melayani maka janganlah hendaknya berharap untuk mendapatkan pelayanan. Pelayanan (seva) adalah penopang kesempurnaan ke-Empat jalan menuju Hyang Widhi Yang telah ditetapkan dalam Weda. Yaitu : Raja Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga dan Karma Yoga.Melayani dalam konsep Hindu meliputi hampir semua jenjang kehidupan manusia. Dari lahir sampai mati. Bayi yang baru lahir mendapat pelayanan dari ibunya dengan penuh cinta kasih tanpa harapan untuk mendapat balasan. Demikianlah hendaknya pelayanan itu dilakukan berlandaskan cinta kasih seperti kasih ibu kepada anaknya. Makanya setelah ibu bapaknya menjadi tua si-anaklah yang berkewajiban untuk melayaninya. Jangan sampai terjadi setelah ibu/bapaknya tua renta ditelantarkan oleh anaknya, tidak mendapatkan pelayanan selayaknya. Karena Sarasamuscaya 247 menyebutkan “ kunang ikang iniggatan deni ibunya, makahetu pratikulanya, ya ika daridra negaranya, ya ika anemu duhkha negaranya, ya ika gumawe cunyaning rat negaranya”. Artinya orang yang ditinggal oleh ibunya, yang disebabkan karena bermusuhan dengannya miskinlah orang itu disebut, mengalami duka nestapa, dan hal itu menyebabkan dunia seakan – akan tidak ada apa-apanyasepi adanya. Oleh karena itu layanilah ibu / bapak kita dengan penuh cinta kasih.
Bapak / ibu umat sedharma yang saya hormati, pelayanan itu harus kita berikan kepada orang – orang yang membutuhkan pertolongan, agar menjadi tepat sasaran. Menjadi sia-sialah pelayanan itu bila dilakukan pada orang yang tidak membutuhkan. Pelayanan yang paling mudah untuk dilakukan adalah  “SENYUM” karena senyum itu adalah karunia Hyang Widhi yang  bernilai tinggi, karena senyum memiliki seribu makna. Orang yang senyum menandakan hatinya bahagia, karena senyaman si A  jadian dengan si B. dan dalam sembahyang kita diharapkan tersenyum sebagai wujud bakti/kasih kepada-Nya. Sehingga ada ungkapan berikanlah senyum-mu pada semua orang, tapi cintamu  hanya untuk satu seorang.
Landasan kita dalam melaksanakan pelayanan adalah; kebenaran (sathya), kebajikan (Dharma), cinta kasih (Prema), kedamaian (Shanty), tanpa kekerasan (Ahimsa). Kalau ini menjadi landasan pijak dalam melayani, maka pelayanan itu akan berkualitas dan tanpa pamerih. Dalam 7 (tujuh) persyaratan  sebuah yadnya dikatakan  berkualitas, maka 1 (satu) diantaranya adalah Anaseva, yaitu memberikan pelayanan berupa perjamuan makanan. Jadi kalau ada yadnya dilakukan tanpa memberikan pelayanan berupa perjamuan maka kualitasnya masih kurang, begitu penting pelayanan itu dalam Hindu, apapun bentuknya, bagaimanapun caranya, dimanapun tempatnya, yang penting berdasarkan lima landasan tadi atas, jangan pernah ragu lakukanlah pelayanan itu.
Bapak/ibu umat sedharma yang saya hormati, kita juga wajib menghormati dan melayani tamu dan orang tua kita. Dalam pustaka suci kita disebutkan “ Atity Dewa Bhawa phrtyu dewa bhawa” hormati/ layanilah tamu-mu karena tamu adalah Tuhan  dan hormati/ layanilah orang tua-mu karena orang tua adalah Tuhan. Dalam tradisi Weda bahwa tuan rumah tidak boleh makan sebelum Tamu atau orang tuanya makan. Demikian pula halnya seorang istri yang baik harus melayani suaminya dengan penuh kasih dan suami harus menjadi pelindung keluarganya, itulah sebabnya dia disebut suami (pelindung). Kalau bercerita masalah melayani lalu maaf “ para WTS itu kan pelayan yang membuat para lelaki hidung poleng/belang senang/puas nafsunya, berarti baik dong profesinya, karena dia selalu melayani kapanpun dia dibutuhkan. Saya lihat bapak-bapak banyak yang menahan senyum… mudah-mudahan diantara kita tidak ada seperti itu. WTS/ WP. Atau apapun namanya yang sejenis itu, yang dia lakukan itu adalah perbuatan Zina. Yang bukan pasangan suami istri itu dilarang keras oleh Weda dan hukumannya sangat berat. Silahkan baca dalam manawa dharma sastra.
Bapak/ibu umat sedharma yang saya hormati, PHDI pun mengeluarkan Bisamanya diharapkan dalam  melaksanakan yadnya atau perayaan hari besar seperti Nyepi dan Dharma shanti, agar menyisihkan 30 % dari anggaran nya untuk pelayanan sosial, berarti PHDI (umat Hindu) konsent dengan pelayanan. Karena melayani / pelayanan adalah adalah sebuah sadana / latihan spiritual dalam mengurangi kemelekatan materi menuju kebebasan tanpa keterikatan. Karena dalam Bhagawad gita Bab III sloka 4 disebutkan “ Na karmanam anarambham, naiskarmyam puruso ‘stute, na ca samnyasanad eva, siddhim samadhigachati.” Artinya: Tanpa kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja.”
Begitu pentingnya melayani antar sesama manusia, sehingga orang-orang arif bijaksana menyebutkan “pelayanan kepada manusia adalah pelayanan kepada Tuhan.” Karena orang yang melaksanakan pelayanan/kerja dengan tulus penuh cinta kasih berlandaskan lima pilar di atas maka pahala yang diperoleh oleh yang melakukan Raja Yoga, Jnana Yoga dan bhakti Yoga, akan diperoleh pula olehnya. Inilah jalan  yang dianjurkan untuk dilakukan di jaman kali yuga ini, karena dapat dilakukan secara kolektif oleh banyak orang. Bahkan disebutkan dalam bhagawad gita, bahwa seorang Muni akan mencapai kesempurnaan kalau ia melaksanakan kerja atau pelayanan,” inti dari pelayanan adalah cinta kasih.  Ada sebuah cerita pendek tentang cinta kasih; Maha Rsi sanathkumara ayahnda Rsi Narada memanggil Rsi Narada, sabda beliau “anak-Ku  sayang, WEDA dan sastra seperti  hutan lebat.  Berbahaya kalau kehilangan jejak dalam hutan tersebut. Weda dan sastra mempunyai beberapa arti. Arti yang mana saja kau yakini, kesulitannya Sama dengan kemudahan-nya. Oleh karena itu jangan cari susah mencoba mengukur artinya, engkau lebih baik menanamkan rasa bhakti pada Brahman (Tuhan) dan bersatu dengan-Nya menyanyikan keagungan-Nya dalam kegembiraan. (mekidung). Rsi Naradamengusulkan Bhakti sutra-Nya yang terkenal dengan sebutan “Narada Bhakti Sutra” yang menjadikan Prema (kasih) sebagai tujuan utama hidup ini dan empat tujuan hidup yangbiasa-biasa saja yaitu catur purusa artha, yaitu : Dharma, Artha, Kama dan Moksa (bebas dari ikatan). Dengan mengikis khayalan orang akan mendapat kebahagiaan (ananda), dengan terus menerus menyanyikan keagungan Tuhan dan menari dalam kegembiraan ( seperti saat kita mendak atau nyineb) ide Batara di utama mandala ini, melupakan diri sendiri secara penuh, orang akan memperoleh Thadathmya (menjadi satu dengan hyang widhi) itulah tingkat tertinggi dari bhakti yang dijelaskan oleh Rsi Narada sebagai Parama Prema (kasih tertinggi). Yang dijadikan inti Weda oleh Rsi Narada.
Bapak/ibu umat sedharma yang saya hormati, konsep melayani dalam Hindu/ WEDA itu wajib hukumnya. Jadi harus dilakukan berlandaskan : kebenaran, kebajikan, cinta kasihKedamaian, dan tanpa kekerasan. Sehingga menghasilkan tanpa keterikatan. Marilah ketuk  hati kita untuk saling melayani berlandaskan kasih sejati itu, maka iri, ego permusuhan dan semua sifat buruk lainnya akan menjauh dan kedamaianlah yang akan mendekati kita. pada hakekatnya  semua  pelayanan yang kita lakukan adalah pelayanan kepada Hyang Widhi, sekecil apapun itu. Baik pelayanan berupa moril ataupun materi, Janganlah pernah ragu akan hal itu. Sehingga nantinya pengurus PHDI, Banjar atau lembaga Hindu lainnya tidak akan susah payah teriak mengajak ibu bapak untuk sekedar sangkepan atau rapat. Karena semua itu membicarakan tentang pelayanan kepada umat. nantinya sulit menemukan sampah dilingkungan Pura ini terlebih di utama mandala ini. Karena sebagian besar atau semua umatnya mempunyai kasih sejati berlomba-lomba untuk saling melayani. Karena semua yang kita lakukan akan berpulang kembali pada diri kita sebagai sebuah karma. Karena Dharma itu hanya Akan melindungi orang yang melaksanakan Dharma itu. Dan akhirnya saya mohon maaf  atas segala kekurangan baik isi maupun cara penyampaian Dharma wacana ini. Saya tutup dengan puja parama shanti”
 OM shanty, shanty, shanty, OM…,
Makassar, 13 Pebruari 2010
Dharma Wacana Disampaikan padaTilem Keulu
di Pura Giri Natha Makassar
I MADE WENA



SIWARATRI: KITA SEMUA ADALAH PEMBURU

14012010
(dari Mimbar Hindu di TVRI Sul-Sel)
Om Swastyastu…
 Mengawali tahun 2010, umat Hindu, khususnya di Sulawesi Selatan, memperoleh kesempatan untuk mengisi Mimbar Agama di TVRI Sul-Sel, tepatnya 12 Januari 2010, sebuah momen yang telah lama tiada. Angayubagia ke hadapan Hyang Widhi Wasa atas waranugraha ini.  Sebuah waranugraha yang sangat bermakna dan bernilai.
 Momen ini disambut hangat oleh lembaga keumatan di Sul-Sel. Kebetulan juga akhir tahun 2009 lalu, PHDI Sul-Sel telah membantuk satu lembaga yang khusus akan menangani manajemen informasi keagamaan Hindu. yaitu BPH (Badan Penyiaran Hindu)Sul-Sel.
 Kembali kepada mimbar tadi, temanya adalah Siwaratri. Tema ini diambil mengingat bulan Januari ini terdapat satu hari suci, ya Siwaratri, yang jatuh pada tanggal 14 januari 2010.
 Siwaratri terdiri atas dua kata, Siwa dan ratri (malam), atau malam payogan Hyang Siwa.
Siwaratri didasari oleh beberapa Purana, di antaranya adalah Siwa Purana, Garuda Purana, Skanda Purana, dan Padma Purana.  Satu lagi sumber yang senantiasa dijadikan rujukan perayaan Siwaratri adalah Lontar Siwaratrikalpa, karya Sulinggih yang kita sucikan, Mpu Tanakung.
Dalam sumber-sumber di atas, semuanya menggunakan simbol pemburu, yang pergi berburu pada saat hari Siwaratri. Lalu kesasarlah sang pemburu, sampai malam hari, tidak mendapat satu pun hewan buruan. Karena takut pulang, sang pemburu memutuskan untuk tetap tinggal di hutan tersebut. Kemudian, karena takut akan binatang buas, maka naiklah sang pemburu ke atas pohon bilwa (bila, maja). Sambil menunggu siang, sang pemburu memetik-metik daun bila, yang jatuh di atas Siwalingga, yang kebetulan berada pas di bawah pohon tersebut.
Jika kita bawa ke dalam kehidupan manusia, memang benar, bahwa kita semua adalah pemburu. Ada yang berburu harta. Apakah sekadar untuk menyambung hidup atau untuk lebih dari itu. Ada yang berburu jabatan, berburu keinginan, berburu kesenangan, berburu penghargaan, dan sebagainya. Semua jenis “buruan” itu diliputi oleh berbagai nafsu/kama, yang di dalam agama Hindu adalah salah satu musuh yang ada bersemayam di dalam diri manusia. Semua jenis nafsu itu adalah binatang buruan manusia, yang dalam berbagai purana tadi disebut dengan berbagai nama, salah satu yang paling dikenal adalah Lubdhaka.
Binatang-binatang yang berwujud nafsu dan berbagai keinginan inilah yang tiada henti diburu oleh manusia kini. Hutannya bisa jadi hutan betulan atau bisa juga hutan beton. kadang-kadang keinginannya terpenuhi, kadang-kadang tidak. Jika tidak terpenuhi, manusia kini yang tak mampu menguasai dirinya akan memanggil binatang lainnya seperti kemarahan, kebencian, iri hati. Bahkan ada yang menyebut nama binatang yang tak patut diburu: anjing, bangsat (kutu busuk), dan sebagainya. Yang lebih parah lagi, ada yang mengakhiri hidupnya sebagai manusia, dengan cara memaksa dirinya mati.
Manusia yang disimbolkan sebagai Lubdhaka tadi, lebih bisa diterima “jalan keluar” dari kegagalannya berburu. Dia hanya memetik-metik daun bila. Tidak mengamuk, marah, benci, apalagi mau bunuh diri, karena kegagalannya. Dia tidak melakukan hal itu.
Di zaman kali ini, sepatutnya kita lebih memusatkan diri untuk memerangi musuh-musuh yang bersemayam dalam diri kita, yang biasa disebut dengan sad ripu (enam jenis musuh). Keenamnya yaitu: kemarahan, kelobaan, kenafsuan, kemabukan, iri hati, dan keculasan. Keenamnya itulah yang akan menjerumuskan diri kita ke dalam jurang, jurang kesengsaraan, jurang kepapaan, jurang kenistaan, dan sebagainya. Bhagawadgita menyatakan itu sebagai pintu masuk ke neraka loka.
Memerangi musuh-musuh di atas, bukanlah sesuatu yang mudah. Luar biasa sulitnya. Kemarahan, jika muncul dan tak bisa dikendalikan tunggu saja akibatnya, yang pasti akan merusak diri sendiri.  Kelobaan akan membuat seseorang lupa akan kehadiran orang lain dan juga dirinya. Kemabukan, yang jumlahnya 7 (sapta timira) akan semakin menjauhkan diri manusia dari jati dirinya yang sejati. Mabuk akan keremajaan, kegantengan atau kecantikan diri berapa lama akan bertahan? Kekayaan  bisa memberi  kebaikan, tetapi jika dilanda kemabukan terhadapnya akan membawa pemiliknya menjauh dan makin menjauh dari dirinya.  Mabuk akan keturunan (bangsawan atau anak pejabat misalnya) makin menyempitkan nilai kemanusiaannya, yang bisa jadi akan merendahkan orang lain. Silahkan diteruskan dengan mabuk-mabuk lainnya, apa akibat yang bisa jadi melanda diri manusia.
Dengan mendekatkan diri kepada Hyang Siwa melalui hari suci Siwaratri ini, astungkara, kita akan mampu menghindari musuh-musuh di atas. Jalan pengendalian diri menjadi jalan yang bisa ditempuh. Melihat ke jauh ke dalam hati, jauh dan jauh, akan ditemukan sesuatu kita bersihkan sthana-Nya. Walaupun jauh, sebenarnya sangat dekat.  Mari kita bersihkan sthana Hyang Siwa di dalam hati kita. Mari kita sucikan tempat Beliau, agar Beliau berkenan hadir dan senantiasa bersemayam di sana. Hati kita adalah Pura bagi-Nya. Dengan membersihkan dan menyucikan pura kecil dalam diri kita, sinar suci Beliau akan makin terang bagi kita dan secara perlahan-lahan mampu mengusir embun sad ripu (enam jenis musuh) yang melekat. Dengan begitu, kesadaran akan jati diri kita semakin tumbuh, tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kesadaran yang nyata. 
Pada suatu kesempatan IBG Agastya menyatakan bahwa: kata kunci dalam kitab-kitab Purana tersebut di atas adalah turu (tidur), tutur (sadar), papa (kesengsaraan), dan punia (pembebasan, kemuliaan). Oleh karena itu, ajaran Siwaratri adalah ajaran universal yang mengingatkan manusia pada hakikat dirinya adalah suci, dan Siwaratri harus dilaksanakan dalam suasana penuh kesucian, dengan melakukan pemusatan pikiran kepada Hyang Siwa yang mahasuci. Inilah hakikat ”perburuan manusia”, yang dimaksud dalam ajaran Siwaratri.



Penyambutan Tahun Baru Menurut Hindu *)

5012010
Puja dan puji angayu bagia kehadapan Hyang Widi Wasa/Tuhan yang Maha Esa atas waranugraha-NYA kita dapat bersama – sama di tempat yang kita sucikan ini untuk melaksanakan salah satu bhakti kita dalam kegiatan sembahyang bersama Purnama sasih kepitu di pengujung tahun 2009 menyongsong tahun baru 1 Januari 2010. Dharma wacana yang ditugaskan kepada saya adalah : Pelaksanaan Tahun Baru menurut Hindu. Apa makna dari judul tersebut,  mengingat selama ini kita umat Hindu seingat saya belum pernah melaksanakan kegiatan yadnya/sembahyang bersama menyambut tahun baru seperti kita umat Hindu menyambut tahun baru Saka dengan melaksanakan berbagai kegiatan yadnya dan sembahyang bersama. Hanya saja kali ini, kebetulan bertepatan dengan Purnama Kepitu, jadi ya kita bersembahyang bersama.
Pertanyaannya: apakah ada ketentuan yang mewajibkan kita melaksanakan yadnya yang dilanjutkan dengan sembahyang bersama atau sebaliknya dalam menyambut ahun baru Masehi. Nah, sebelum kita dapat menjawab atas pertanyaan tersebut marilah kita kembali tentang makna yadnya dan sembahyang yang biasa kita lakukan. Yadnya adalah korban suci yang dilaksanakan secara tulus ikhlas, tanpa pamrih. Semestinya manusia bertindak melakukan yadnya, Tuhan saja melakukan yadnya yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Segala potensi yang ada pada diri manusia bisa dikorbankan untuk kebaikan. Dan itulah yadnya dalam arti seluas-luasnya, yang bukan hanya bermakna sebagai upakara saja.
Semua orang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan untuk setidak-tidaknya untuk memohon perlindungan. Perasaan diri dekat dengan Tuhan dapat menyebabkan seseorang merasa tenang, damai, karena ia yakin bahwa Tuhan akan melindungi dirinya dari mala petaka. Di samping itu, akan memberikan pengaruh kesucian pada dirinya, karena Tuhan bersifat Maha Suci, terlebih-lebih saat ini kita berada pada zaman kali yuga. Zaman yang penuh dengan berbagai hambatan dalam menjalankan dharma.
Berkaitan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, Bhagawadgita IX.34 mengajarkan kita untuk senantiasa memusatkan pikiran kepada-Nya. Selengkapnya sloka IX.34 itu berbunyi:
man-manā bhava mad-bhakto mad-yājī māḿ namaskuru mām evaiṣyasi yuktvaivam ātmānaḿ mat-parāyaṇaḥ yang artinya: “Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, bersujudlah kepada-Ku, sembahlah Aku, dan setelah kau mengendalikan dirimu dengan menjadikan Aku sebagai tujuanmu tertinggi, engkau akan tiba pada-Ku.”
Sloka di atas sangat jelas menganjurkan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan salah satu cara yaitu dengan sembahyang, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama. Sembahyang secara sendiri-sendiri disebut ekanta, sembahyang secara bersama-sama disebut sam kirthanam.
Makna Sembahyang Bersama
Sembahyang bersama sesungguhnya merupakan proses pendidikan yang bernilai sosiologis dan psikologis untuk mendidik seseorang agar bisa hidup bersama secara dinamis di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Dalam sembahyang bersama semestinya setiap orang berusaha untuk mengembangkan aspek-aspek positif dalam dirinya dan membiasakan diri untuk menekan atau mengurangi atau bahkan menghilangkan aspek atau kebiasaan negatif, seperti merokok, berisik atau bersuara keras, dll.
Dalam sembahyang bersama sembahyang bersama seseorang dapat melatih diri dan membiasakan sikap yang tepat dan benar. Suasana dalam sembahyang bersama merupakan suasana yang bisa mendorong tumbuhnya nilai-nilai kerohanian untuk menghidupkan api spiritual yang sangat dibutuhkan dalam menuntun kehidupan yang suci. Sikap dan sifat yang bisa ditumbuhkan adalah saling tolong, kasih saying, ikut merasakan penderiatan orang lain, ikut berbahagia atas keberuntungan orang lain, loyal dalam pergaulan, rela berkorban demi mewujudkan sesuatu yang lebih bernilai dan mulia. Yang penting dalam sembahyang bersama adalah hindari sifat-sifat arogan, egois, iri, dengki, sifat-sifat ekslusif, yang bisa meneyebabkan susahnya kebersamaan. Demikian pentingnya sembahyang bersama.
Umat se-Dharma, selanjutnya mari kita menelaah apakah kita wajib beryadnya yang diikuti persembahyangan bersama dalam penyambutan tahun baru masehi?
Hasil Pesamuhan Agung PHDI menyatakan bahwa pelaksanaan yadnya hendaknya didasarkan pada Dharma. Dasar pelaksanaan Dharma bagi umat Hindu adalah Weda. Weda menentukan nilai-nilai pokoknya, yang kemudian oleh para Maharsi yang amat bijak menentukan garis-garis pelaksanaannya. Pelaksanaannya inilah disesuaikan dengan tempat beradanya umat Hindu yang didasarkan atas Catur Dresta. Catur Dresta terdiri atas: 1. Sastra dresta: kebenaran berdasarkan sastra agama; 2. Purwa dresta: kebenaran berdasarkan masa lalu; 3. Loka dresta: kebenaran berdasarkan kesepakatan yang diawali dengan musyawarah; 4. Desa dresta: kebenaran berdasarkan tempat pelaksanaan atau berlangsungnya yadnya.
Dalam Manawa Dharma Sastra juga dikatakan bahwa ada 5 sumber hukum Dharma, yaituSruti, Smrti, Sila, Sadacara atau Acara, dan Atmanastuti. 1. Sruti: kata sruti berarti wahyu atau sabda suci Hyang Widhi Wasa, yang terhimpun dalam Catur Weda dan Pancamo Weda (Bhagawadgita). 2. Smrti: juga merupakan sumber hukum Hindu yang ditulis berdasarkan pemikiran bijak dan interpretasi para maharsi, seperti Dharmasastra, Purana, Itihasa 3. Sila: adalah tingkah laku orang-orang suci yang senantiasa mendasarkan diri pada ajaran Weda yang tentunya dapat dijadikan contoh; 4. Sadacaraatau acara: adat dan kebiasaan setempat yang diterima dan dijadikan sebagai bagian dari kepercayaan oleh masyarakat setempat. Agama Hindu memberikan pengakuan tegas atas acara ini, sehingga adat diakui sebagai sumber Dharma. 5. Atmanastusti: sesuatu yang membuat orang berbahagia. Karena hal ini sifatnya sangat relatif, ukurannya biasanya adalah apa yang disepakati secara musyawarah. Hal ini timbul apabila ada sesuatu yang belum secara tegas dan tersurat diatur, maka atmanastusti dapat dijadikan ukuran. Ajaran ini juga memberi dasar hukum bagi PHDI dalam merumuskan berbagai kebijakan yang menyangkut kehidupan beragama Hindu.
Umat se-Dharma yang berbahagia…
Alam semesta menurut agama Hindu disebut makokosmos dan berasal dari Hyang Widhi. Menurut Veda, alam semesta merupakan maya, sakti atau bentuk kasar (sekala) dari Tuhan Yang Maha Kuasa (niskala). Konsep sekala-niskala sama pengertiannya dengan material-spiritual.
Karena alam semesta beserta isinya dipandang berasal dari Tuhan, maka manusia dan alam semesta adalah sesuatu yang sama. Dalam hal ini manusia disebut juga mikrokosmos. Apa yang ada pada makrokosmos ada juga pada mikrokosmos, demikian pula sealiknya. Dikatakan juga bahwa manusia adalah miniature alam semesta yang paling sempurna dan sebagai manajer jagat raya. Hal ini tercantum dalam Veda, dengan ungkapan sarva butha kutumbhakan, semua mahluk adalah bersaudara. Inilah paham Hinduisme yang mengandung paham keluarga semesta.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara umat se-Dharma,
 Dari semua uraian di atas, dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ditemukan secara tertulis tentang aturan pelaksanaan yadnya berkaitan dengan tahun baru masehi. Namun demikian, dari segi urutan Dharma di atas, dapat dikaitkan dengan sadacara/acara dan atmanastusti, hal ini dapat saja dilaksanakan sesuai keadaan umat setempat. Ditinjau dari kosmologi Hindu, walaupun belum ditemukan keharusan melaksanakan yadnya dalam menyongsong tahun baru masehi, sepertinya tidak ada salahnya dilaksanakan sesuai dengan keadaan setempat, misalnya dengan sembahyang. Toh menurut Hindu, umat diharapkan bersembahyang dalam setiap pergantian waktu/kala.
Persembahyangan yang dilakukan sebanyak 3 kali sehari juga didasarkan atas pergantian kala. Malam menjelang pagi dilaksanakan sembahyang (pratah sewanam), pagi menjelang tengah hari dilaksanakan sembahyang (madyandina sewanam), dan sore menjelang malam juga dilaksanakan sembahyang (sandya sewanam). Jumlahnya tiga kali sehari, sehingga disebut tri sandya.
Mengakhiri dharma wacana ini, alangkah baiknya kita panjatkan doa:
Om sarwe sukhino bhawantu, sarwe santu niramaya, sarwe badrani pasyantu, makasid dhuka bagbhawet, samastha loka sukhino bhawantu samastha loka sukhino bhawantu samastha loka sukhino bhawantu Om Santih Santih Santih Om…..
 Secara khusus kepada arwah K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) kita doakan semoga memperoleh tempat yang layak, sesuai dengan dharma bhakti Beliau: Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu, Om Ksama Sampurna Ya Namah Svada….
Pura Giri Natha Makassar, 31 Desember 2009
N. Suartha
*) Disampaikan pada persembahyangan bersama Purnama Kepitu, 31 Desember 2009, di Pura Guru Natha, Makassar.



KIAMAT MENURUT AJARAN HINDU

7122009
KIAMAT MENURUT AGAMA HINDU
Tulisan berikut merupakan Dharma Wacana pada saat persembahyangan Purnama Kenem di Pura Giri Natha, Makassar, tanggal 1 Desember 2009. Semoga ada hal-hal positif yang bisa dipetik. Semoga semua pikiran yang baik datang dari segala arah .  (BPH Sul-Sel)
Para Pinandita yang kami sucikan, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu umat se-dharma yang kami hormati, serta adik-adik generasi muda Hindu yang saya sayangi dan saya banggakan.
Pertama-tama terimalah Panganjali kami,
OM Swastyastu
OM Awighnam Astu Namo Sidham 
Hari ini sebagaimana kita ketahui merupakan rainan Purnama Sasih Kanem. Marilah kita menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas anugerah yang diberikan-Nya sehingga kita ada dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun juga. Yang kedua kami pribadi menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk membawakan dharma wacana kali ini, karena dengan kesempatan ini memacu kami untuk mencari tahu lebih banyak, membaca lebih banyak sehingga harapan kami mampu tampil mewartakan dharma dengan baik.
Pada kesempatan ini, kami sangat tertarik untuk mencari permasalahan aktual yang berkembang akhir-akhir ini, dan kebetulan pada saat kami jalan-jalan di Gramedia, kami menemukan banyak sekali buku (lebih dari 3 judul) yang membahas tentang tahun 2012, lebih spesifik lagi, KIAMAT 2012. Dan ternyata bukan buku saja yang banyak mengulas tentang Kiamat 2012 ini, tetapi juga berbagai acara TV dalam 1 bulan belakangan ini. Tidak sedikit yang percaya akan ramalan yang sebenarnya bermula dari Suku Maya ini (–manuskrip peninggalan suku Maya system penanggalannya berakhir pada 21-12-2012yang diinterpretasikan sebagai kiamat–), Dan bahkan yang paling fenomenal adalah diluncurkannya film Hollywood dengan judul “2012” dan mencetak box office (–MUI Jatim melarang untuk menonton film ini–), karena keingintahuan yang sedemikian besar tentang kiamat.
Berbagai kalangan baik agama ataupun secara ilmiah sudah mengungkapkan tentang kiamat. Bahkan yang paling menghebohkan adalah Teori Kiamat Planet X/Nibiru yang akan menabrak Bumi pada 21-12-2012 (–hal ini kemudian terbantahkan secara ilmu astronomi–). Untuk itu, dalam dharma wacana kali ini kami mengangkat Tema : KIAMAT MENURUT AGAMA HINDU. Hal-hal akan dicoba diulas adalah sebagai berikut :
-          Apakah Hindu mengenal konsep kiamat? Jika ya, Bagaimanakah konsep kiamat menurut agama Hindu?
-          Kapan kiamat menurut Hindu?
-          Bagaimana kita menyikapi jaman Kali saat ini?
Baiklah kita mencoba membahas kedua hal tsb satu per satu :
  1. a.       Kiamat menurut agama Hindu
Bapak-bapak, Ibu-ibu serta adik-adik yang kami banggakan, Setelah kami cuplik bagaimana kiamat menurut Suku Maya dan juga Ilmu Pengetahuan Modern sebelumnya, walaupun sebenarnya masih ada banyak lagi paham, golongan maupun agama yang memiliki konsep mengenai Kiamat ini. Pendapat atau pandangan tentang dunia kiamat itu dalam era demokrasi dewasa ini tentunya boleh-boleh saja. Yang patut dijelaskan, khususnya pada kesempatan yang berbahagia ini adalah, bagaimanakah pandangan Hindu tentang dunia kiamat ini.
Semua ciptaan Tuhan ditata berdasarkan hukum utpati (tercipta), sthiti (hidup terpelihara) dan pralina (lenyap kembali kepada asalnya). Alam dan isinya ini, setelah masanya selesai beredar dan berputar-putar, akan pralina atau pralaya.
Istilah kiamat memang tidak dijumpai dalam ajaran Hindu, karena memang itu bukan bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai dalam ajaran Hindu. Namun, yang mirip dengan konsep kiamat adalah konsep pralina atau pralaya yang ada dalam kitab-kitab Purana. Dalam kitab-kitab Purana, utpati, sthiti dan pralina dibahas secara khusus. Memang terdapat sedikit perbedaan antara Purana satu dan Purana lainnya mengenai konsep ini. Namun, secara umum menyangkut hal-hal yang substansial tentang pralaya, semua Purana isinya sama, bahwa semua ciptaan Tuhan ini kena hukum TRI KONA yaitu utpati, sthiti dan pralina itu.
Empat Konsep Pralaya
Konsep pralaya dalam Wisnu dan Brahma Purana ada dinyatakan empat konsep pralaya yaitu:
Nitya Pralaya yaitu proses kematian yang terjadi setiap hari dari semua makhluk hidup. Bahkan dalam diri manusia pun setiap detik ada sel tubuhnya yang mati dan diganti dengan sel baru. Sel tubuh manusia terjadi utpati, sthiti dan pralina.
*Naimitika pralaya adalah pralaya yang terjadi dalam satu periode manu. Menurut pandangan ini akan terjadi pralaya terbatas dalam setiap akhir manwantara. Ini artinya akan terjadi 14 kali naimitika pralaya atau kiamat terbatas atau kehancuran alam secara terbatas.
Prakrtika Pralaya yaitu terjadinya pralaya secara total setelah manwantara ke-14. Saat terjadinya Prakrtika Pralaya, seluruh alam semesta beserta isinya lenyap dan kembali pada Brahman atau Tuhan Yang Mahaesa dalam waktu yang panjang atau satu malamnya Brahma. Setelah itu akan terjadi penciptaan lagi dan memulai dengan manwantara pertama lagi. Prakrtika Pralaya inilah yang mungkin identik dengan konsep kiamat menurut kepercayaan lainnya. Karena, semua unsur alam dengan segala isinya kembali pada Brahman. Menurut keyakinan Hindu, hanya Tuhanlah yang kekal abadi. Tapi gambaran dan keadaan mahapralaya sangat berbeda dengan gambaran dan keadaan hari Kiamat. Hari Kiamat digambarkan sebagai kehancuran dasyat yang membawa siksa dan penderitaan tiada taranya bagi manusia. Mahapralaya digambar dengan sangat berbeda:Brahman adalah kebahagian; sebab dari kebahagiaan semua mahluk hidup, dalam kebahagiaan mereka semua hidup, dan ke dalam kebahagiaan mereka semua kembali”!. (Tattiriya Upanishad). Seperti seorang meninggal dengan tenang pada usia tua.
Atyantika Pralaya yaitu pralaya yang disebabkan oleh kemampuan spiritualnya melalui suatu pemberdayaan jnana yang amat kuat sehingga seluruh dirinya masuk secara utuh lahir batin kepada Tuhan Brahman.
  1. b.      Kapan Pralaya menurut Hindu?
Dalam kitab Brahma Purana, dinyatakan satu hari Brahman (satu kalpa) atau satu siang dan satu malamnya Tuhan lamanya 14 manwantara. Satu manwantara = 71 maha yuga. Satu maha yuga = empat zaman yaitu kerta, treta, dwapara dan kali yuga. Satu maha yuga = 4,32 juta tahun manusia.
Sekarang peredaran alam semesta sedang berada pada manwantara ketujuh dibawah pimpinan Vaivasvata Manu. Ini artinya pralaya atau kiamat total akan terjadi setelah manu ke-14 berakhir (14x71x10000x432=4.294.800.000 tahun manusia). Manu ke-14 adalah Suci sebagai Indra Savarni Manu.
Ada 2 sisi yang kontradiktif antara ilmu pengetahuan dengan agama. Agama : Believing is Seeing (percaya dulu baru bisa melihat), Science : Seeing is Believing (melihat dulu baru bisa percaya). Oleh karena itu, semua dikembalikan pada kita, karena semua perhitungan di atas diluar kemampuan manusia.
Demikianlah konsep pralaya (semacam kiamat) menurut Hindu. Yakinlah, pralaya dalam arti Prakrtika Pralaya tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, apalagi dinyatakan akhir tahun ini atau 21-12 tahun 2012 mendatang. Sedangkan Nitya Pralaya akan terjadi dalam setiap hari, ada makhluk hidup yang mati dan ada yang lahir.
  1. c.       Bagaimana menyikapi jaman Kali?
Lalu, jika memang kiamat itu akan datang, baik dalam waktu dekat ataupun kapan pun datangnya, apakah kita harus khawatir?
Jawabnya adalah : TIDAK. Mengapa?
Dalam Bhagavadgita 4.7 disampaikan :
yada yada hi dharmasya
glanir bhavati bharata
abhyutthanam adharmasya
tadatmanam srjam y aham
Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela, pada waktu itulah Aku (Tuhan) sendiri turun untuk menegakkannya kembali”
Jadi disana jelas disebutkan bahwa Tuhan akan turun (mengambil wujud ) setiap terjadi kemerosotan Dharma , kondisi ini akan terjadi terus menerus tidak berhenti pada suatu titik tapi terus terjadi sesuai dengan siklus waktu.
Dalam Bhagavata Purana (1.1.10) disampaikan
präyeëälpäyuñaù sabhya
kaläv asmin yuge janäù
mandäù sumanda-matayo
manda-bhägyä hy upadrutäù
“Wahai orang-orang yang terpelajar,
dalam jaman Kali, atau jaman besi,
umur manusia sangat pendek.
Mereka suka bertengkar, malas, mudah
disesatkan (salah pimpin), bernasib
malang, dan diatas segala-galanya,
mereka selalu gelisah.”
Berikutnya kami kutipkan dari Manawa Dharmasastra, I.86

Tapah param krta yuge
Tretayam jnanamuscyate.
Dwapare yajnaewahur
Danamekam kalau yuge.
Artinya: Pada zaman Kerta Yuga, dengan bertapalah cara beragama yang paling utama. Zaman Treta Yuga, beragama dengan mengamalkan ilmu pengetahuan suci (jnana) itulah yang paling utama. Zaman Dwapara, yadnya-lah yang paling utama. Sedangkan pada zaman Kali Yuga, dana punia-lah cara beragama yang paling utama.
Untuk menyelamatkan diri dari pengaruh buruk pada setiap perjalanan yuga itu, Swami Satya Narayana menyatakan agar manusia berperilaku seperti zaman atau mengikuti yuga sebelumnya. Misalnya, pada zaman treta, Sri Rama dan para pengikutnya berperilaku mengikuti zaman kerta yuga meskipun Sri Rama hidup pada zaman treta yuga. Sedangkan Rahwana berperilaku seperti zaman kali. Karena itu, Sri Rama dengan pengikutnya selamat hidup di bawah lindungan dharma dan Rahwana hancur karena hidup berdasarkan adharma.
Demikian juga Pandawa dengan Sri Krisna hidup pada zaman dwapara yuga, tetapi perilakunya mengikuti zaman kerta dan treta yuga. Dengan demikian Pandawa dan Sri Krisna memenangkan hidup berdasarkan dharma, sedangkan Korawa hancur karena mengikuti cara hidup yang adharma.
Demikianlah kini, kalau ingin selamat dari pengaruh zaman kali, hiduplah seperti zaman dwapara. Bahkan kalau bisa, ikuti treta atau kerta, maka akan selamatlah dari pengaruh buruk zaman kali. Justru pengaruh baiknya yang akan didapatkan.
Kesimpulan :
Bapak-bapak, Ibu-ibu serta adik-adik yang kami banggakan, dari pemaparan di atas, dapat kami simpulkan beberapa hal sebagai berikut :
-          Dalam agama Hindu dikenal konsep Pralina atau Pralaya yang dibagi dalam 4 konsep, yaitu : Nitya, Naimitika, Prakrtika dan Atyantika Pralaya.
-          Untuk Prakrtika Pralaya (semacam kiamat) akan terjadi setelah manvantara ke-14 (4,294 milyar tahun), sementara kita saat ini berada pada manvantara ke-7.
Di jaman Kali ini, kita harus mengutamakan sikap/perilaku di jaman Dwapara (beryadnya) dan jika memungkinkan mengikuti Treta Yuga (jnana) atau Kerta Yuga (tapa), untuk menyelamatkan diri dari pengaruh buruk pada setiap perjalanan yuga. Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ada manfaatnya dan sebagai penutup, ijinkan kami menyampaikan Parama Shanti :
Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar