1. Hari raya /yadnya dilakukan setiap hari. Sebagai contoh para sulinggih melakukan Surya Sewana, umat Hindu melakukan Tri Sandhya, Yoga Yadnya, Swadhyaya Yadnya, dan Dyanayadnya. Yang harus dilakukan tiap hari adalah Yadnya Sesa
2. Hari raya berdasarkan pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara
Artinya persembahan yang dilakukan pada pertemuan antara hari Kajeng (Tri Wara), dan Kliwon (Panca Wara) sehingga didapatkan hari suci Kajeng Kliwon. Kliwon datangnya setiap lima hari sekali, Sang Hyang Siwa bersemedi,pemujaan terhadap sang Hyang Siwa. Kajeng Kliwon datang setiap 15 hari sekali,pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa
3. Hari Raya Berdasarkan pertemuan Sapta Wara dan Panca Wara
Artinya persembahan dilakukan pada pertemuan Sapta Wara denga Panca Wara, antara lain sebagai berikut:
1. Anggara Kliwon disebut pula Anggara Kasih, pada hari ini beryoga Sang Hyang Rudra.
2. Budha Wage disebut juga Budha Cemeng, beryoga Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha di bumi ini. Yadnya dipersembahkan kepada sang Hyang Sri Nini, agar diciptakan kemakmuran dunia
3. Budha Kliwon, hari ini namanya sering disesuaikan dengan wukunya. Hari Budha Kliwon adalah hari penyucian Sang Hyang Ayu atau sang Hyang Nirmala Jati Sehingga persembahan ditunjukkan padanya
4. Saniscara Kliwon hari ini namanya sering disesuaikan dengan nama wuku.Persembahan ini ditujukan kepada Sang Hyang Parameswara
4. Hari Raya Berdasarkan Pawukon
Hari raya berdasarkan pawukon adalah hari raya yang perhitungannya berdasarkan wuku, antara lain :
No
Wuku
Sapta wara
Panca wara
Hari Raya
1.
Sinta
Radite
Pahing
Banyu Pinaruh
Soma
Pon
Soma Ribek
Anggara
Wage
Sabuh mas
Budha
Kliwon
Pagerwesi
2.
Landep
Saniscara
Kliwon
Tumpek Landep
3.
Ukir
Radite
Umanis
Persembahan Bhatara Guru
Budha
Wage
Budha cemeng Ukir
4.
Kulantir.
Anggara
Kliwon
Anggara kasih
kulantir
5.
Tolu
6.
Gumbreg
7.
Wariga
8.
Warigadean
Budha
Wage
Budha Cemeng
Warigadean.
9.
Julungwangi
Anggara
Kliwon
Anggara kasih
Julungwangi
10.
Sungsang
Wraspati
Wage
Sugihan jawa
Sukra
Kliwon
Sugihan bali
11.
Dungulan
Anggara
Wage
Penampahan
Galungan
Budha
Kliwon
Galungan
12.
Kuningan
Radite
Wage
Ulihan
Soma
Kliwon
Pemacekan Agung
Sukra
Wage
Penampahan Kuningan
Saniscara
Kliwon
kuningan
Translate
Rabu, 10 Agustus 2016
Prinsip - Prinsip Pokok Hari Suci Hindu
Untuk menentukan hari suci, didasarkan atas beberapa perhitungan, diantaranya Wewaran, Pawukon, penanggal, panglong, dan sasih. Hal ini banyak dijelaskan didalam Wariga yaitu pedoman untuk mencari ala-ayuning (baik-buruknya) hari atau dewase.
Berbagai macam proses, prinsip dan ketentuan yang melatarbelakangi perhitungan dan pelaksanaan atau perayaan hari-hari suci agama Hindu. Adapun dasar perhitungan yang dimaksud seperti :
1. Sistem perhitungan wara, yaitu perhitungan yang didasarkan atas adanya wewaran, misalnya perpaduan antara Tri Wara dengan Panca Wara dan Sapta Wara.
2. Sistem perhitungan wuku, yaitu perhitungan hari Suci yang didasarkan atas pawukon, yakni dai wuku sinta sampai dengan watugunung.
3. Sistem pranatamasa, yaitu perhitungan hari suci yang didasarkan atas sasih.
4. Sistem tithi, yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan peredaran bulan, seperti purnama dan tilem.
5. Sistem naksatra, yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan perhitungan musim atau yang bersifat musiman.
6. Sistem yoga, yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan perhitungan letak letak tata surya atau planet-planet angkasa. Mengingat keberadaan planet-planet tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan terutama manusia.
7. Sistem karana, yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan perhitungan pertemuan antar bulan dengan matahari.
Demikian dasar perhitungan pelaksanaan hari suci agama Hindu yang dirayakan setiap 15 hari, 30 hari, 35 hari, 210 hari, dan 360 hari sekali. Perayaan hari-hari suci yang dimaksud sudah tentu memiliki tujuan yang ingin diwujudkan yakni “keselamatan/kerahayuan” bhuwana alit dan bhuwana agung sebagaimana tersuratkan dalam kitab suci Weda yakni terwujudnya moksartham jagadhita ya ca iti dharma.
Pengertian Hari Suci Menurut Agama Hindu
Hari suci atau rerahinan adalah hari yg diperingati atau di istimewakan berdasarkan kenyakinan bahwa hari itu mempunyai makna bagi kehidupan seseorang/masyarakat karena pengaruhnya dan karna nilai-nilai didalamnya. Bila peringatan hari suci itu dilakukan secara rutin maka acara itu disebut Rerahinan atau sehari-hari. Bila kita pelajari acara rerahinan ini maka hari-hari suci itu ada pada siklus tertentu, dan mempunyai hari puncak dimana hari puncak itu akan kembali kehari permulaan.
Hari suci yang dirayakan oleh seluruh umat disebut hari raya atau rerahinan gumi (jagat). Sedangkan hari suci yang dirayakan oleh kelompok-kelompok tertentu disebut dengan nama odalan atau piodalan. Piodalan atau pawedalan berasal dari kata Wedal yang artinya lahir. Jadi pawedalan atau piodalan merupakan hari suci untuk memperingati kelahiran sesuatu (bukan manusia) atau hari jadi suatu Pura (Karena piodalan biasanya ditujukan untuk tempat suci atau sesuatu lainnya seperti Hari suci Galungan disebut sebagai hari pawedalan jagat.
Pengertian Penanggal dan Panglong
Perhitungan baik buruknya hari berdasarkan atas penanggal dan panglong :
1. Tanggal atau pananggal disebut juga Sukla Paksa yang berarti bulan terang (setelah bulan mati) yaitu hari-hari setelah tilem seperti hari pertama setelah tilem disebut tanggal apisan (tanggal 1), hari kedua tanggal pindo (tanggal 2) dan seterusnya sampai tanggal 14 yang disebut purwani, dan tanggal 15 disebut Purnama.
2. Panglong disebut juga Kresna Paksa yang berarti bulan gelap (waktu bulan gelap) yaitu hari-hari setelah Purnama, seperti hari pertama setelah purnama disebut panglong apisan (panglong 1), hari kedua disebut panglong 2 dan seterusnya sampai panglong 14 yang disebut juga purwani dan panglong 15 disebut tilem. Tanggal atau penanggal dan panglong itu mempunyai perhitungan baik dan buruk hari (ala-ayu), disamping itu ada pula perhitungan sedang (tidak baik dan tidak buruk atau madia). Demikian pula apabila pananggal panglong itu bertemu dengan sapta wara, panca wara, sasih, dan yang lainnya, maka akan muncul padewasan baik dan buruk (ala-ayu).
1. Tanggal atau pananggal disebut juga Sukla Paksa yang berarti bulan terang (setelah bulan mati) yaitu hari-hari setelah tilem seperti hari pertama setelah tilem disebut tanggal apisan (tanggal 1), hari kedua tanggal pindo (tanggal 2) dan seterusnya sampai tanggal 14 yang disebut purwani, dan tanggal 15 disebut Purnama.
2. Panglong disebut juga Kresna Paksa yang berarti bulan gelap (waktu bulan gelap) yaitu hari-hari setelah Purnama, seperti hari pertama setelah purnama disebut panglong apisan (panglong 1), hari kedua disebut panglong 2 dan seterusnya sampai panglong 14 yang disebut juga purwani dan panglong 15 disebut tilem. Tanggal atau penanggal dan panglong itu mempunyai perhitungan baik dan buruk hari (ala-ayu), disamping itu ada pula perhitungan sedang (tidak baik dan tidak buruk atau madia). Demikian pula apabila pananggal panglong itu bertemu dengan sapta wara, panca wara, sasih, dan yang lainnya, maka akan muncul padewasan baik dan buruk (ala-ayu).
Manfaat Sembahyang Menurut Agama Hindu
Sembahyang yang dilakukan oleh umat Hindu memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah:
1. Meningkatkan kesucian hati dan pikiran
2. Menumbuhkan keikhlasan
3. Menumbuhkan rasa aman
4. Memperoleh ketenangan jiwa
5. Menumbuhkan cinta kasih
6. Mengatasi perbudakan material
7. Melestarikan alam semesta
8. Memelihara kesehatan jasmani
1. Meningkatkan kesucian hati dan pikiran
2. Menumbuhkan keikhlasan
3. Menumbuhkan rasa aman
4. Memperoleh ketenangan jiwa
5. Menumbuhkan cinta kasih
6. Mengatasi perbudakan material
7. Melestarikan alam semesta
8. Memelihara kesehatan jasmani
Tata Cara Persembahyangan Yang Benar Menurut Agama Hindu
Adapun langkah-langkah persiapan dalam rangka sembahyang perlu diketahui antara lain:
1. Asuci laksana yaitu membersihkan badan, pakaian, dan yang lainnya.
2. Mempersiapkan sarana
3. Menentukan tempat duduk sesuai kenyamanan masing-masing
4. Menentukan sikap sembahyang sesuai situasi dan kondisi (Silasana atau Bajrasana)
5. Pranayama, yaitu pengaturan nafas
6. Karasudhana : menyucikan badan dengan Mantra
7. Puja Trisandya.
8. Kramaning sembah/Panca Sembah
a) Sembah Puyung, ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Sang Hyang Siwaraditya. Dengan mantra sebagai berikut :
“Om atma tattwatma suddha mam swaha”.
b) Menyembah Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Aditya. Dengan mantram
“Om adityasya paramjyoti, rakta teja namo stute, sweta pankaja madhyastha,bhaskara ya namo stute”.
c) Memuja Ista Dewa, dalam prabhawanya sebagai Siwa, dengan mantra
“Om nama dewa adhisthanaya sarwa wyapi wai siwaya, padmasana eka prathishaya, ardhanareswarya namo namah.
d) Menyembah Tuhan sebagai pemberi anugrah, dengan mantra
“Om anugraha manohara, dewa dattanugrahaka, arcanam sarwa pujanam namah sarwa nugrahaka.
e) Sembah puyung, dengan mantra
“Om dewa suksma parama acintya ya nama swaha.
9. Mohon Tirtha.
10. Mohon Bija.
1. Asuci laksana yaitu membersihkan badan, pakaian, dan yang lainnya.
2. Mempersiapkan sarana
3. Menentukan tempat duduk sesuai kenyamanan masing-masing
4. Menentukan sikap sembahyang sesuai situasi dan kondisi (Silasana atau Bajrasana)
5. Pranayama, yaitu pengaturan nafas
6. Karasudhana : menyucikan badan dengan Mantra
7. Puja Trisandya.
8. Kramaning sembah/Panca Sembah
a) Sembah Puyung, ditujukan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Sang Hyang Siwaraditya. Dengan mantra sebagai berikut :
“Om atma tattwatma suddha mam swaha”.
b) Menyembah Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Aditya. Dengan mantram
“Om adityasya paramjyoti, rakta teja namo stute, sweta pankaja madhyastha,bhaskara ya namo stute”.
c) Memuja Ista Dewa, dalam prabhawanya sebagai Siwa, dengan mantra
“Om nama dewa adhisthanaya sarwa wyapi wai siwaya, padmasana eka prathishaya, ardhanareswarya namo namah.
d) Menyembah Tuhan sebagai pemberi anugrah, dengan mantra
“Om anugraha manohara, dewa dattanugrahaka, arcanam sarwa pujanam namah sarwa nugrahaka.
e) Sembah puyung, dengan mantra
“Om dewa suksma parama acintya ya nama swaha.
9. Mohon Tirtha.
10. Mohon Bija.
Sarana Sembahyang Menurut Agama Hindu
Pada saat sembahyang, umat biasanya mempergunakan sarana tertentu baik yang bersifat niskala (tidak nampak) berupa pikiran, keyakinan/kepercayaan. Sedangkan sarana yang berbentuk sekala (nyata) diantaranya seperti diuraikan dalam kitab Bhagavad Gita, IX.26, disebutkan bahwa sarana yang dipergunakan berupa Dipam (Api), Patram (Daun), Puspam (Bunga), Phalam (Buah) dan Toyam (Air). Setiap persembahan tersebut memiliki makna tersendiri, misalnya bunga. Bunga sebagai persembahan mengandung makna kesucian, dan cinta kasih
Langganan:
Postingan (Atom)