Translate

Rabu, 12 Oktober 2016

SAPTA TIMIRA

Sapta Timira artinya : tujuh kegelapan. Tujuh hal yang menjadi penyebab kegelapan itu adalah : Surupa, Dhana, Guna, Kulina, Yowana, Sura dan Kasuran. Ketujuh hal tersebut oleh masyarakat disebut peteng pitu atau tujuh kegelapan.
      Hal-hal yang membuat gelap seseorang adalah kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kepandaian, kebangsawanan, usia muda, minum keras dan keberanian, semuanya itu menyebabkan pikiran menjadi gelap bagi manusia, jika ada orang kaya, tampan atau cantik, pandai, keturunan bangsawan dan berusia muda, kalau tidak mabuk dan gelap karena semua itu maka ia adalah seorang mahardika, sungguh-sungguh seorang bijak sana tiada tandingnya. Berikut bagian dari Sapta Timira :
  1. Surupa
  2. Dhana
  3. Guna
  4. Kulina
  5. Yowana
  6. Suna
  7. Kasuran
  1. Surupa artinya kecantikan atau ketampanan. Kecantikan atau ketampanan yang dibawa sejak lahir merupakan anugrah Ida Sang Hyang Widhi yang maha pengasih dan maha penyayang. Seseorang yang cantik atau tampan tidak boleh takabur atas kecantikan atau ketampanan yang dimilikinya, karena sesungguhnya tidak kekal. Kecantikan  atau ketampanan itu harus disertai dengan keluruhan budhi, bila tidak demikian tidak ada nilainya atau harganya, bahkan dapat menimbulkan kegelapan dan kemabukan atau kesombongan. Hendaknya surupa itu tidak dibiarkan  menjadi penyebab kehancuran
  2. Dhana artinya kekayaan, kekayaan disebut juga artha. Kekayaan sesungguhnya berguna bagi siapapun, karena orang berlomba-lomba berusaha bekerja keras untuk dapat memiliki kekayaan itu. Namun disamping besar gunanya juga besar godaannya. Sering kali kekayaan yang dimiliki seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Agama. Karena pengaruh kekayaan orang sering menjadi sombong, angkuh, menghina orang lain, mengumbar hawa nafsu dan lupa diri. Karena itu pergunakan kekayaan itu untuk kepentingan yang sesuai dengan ajaran Agama.
  3. Guna artinya kepandaian, kepandaian diusahakan oleh setiap orang karena kepandaian dapat meringankan seseorang dalam menempuh segala macam suka dan duka kehidupan di dunia ini. Namun kepandaian dapat membahayakan, bila tidak diimbangi dengan budhi pekerti yang luhur. Bila salah menggunakan kepandaian akan menimbulkan kelakuan yang terlarang, seperti : menipu, memfitnah, memperalat orang, pengacau, mengadu domba, provokator, membuat isu-isu yang dapat menimbulkan keresahan pada masyarakat. Karena itu usahakan agar kepandaian yang dimiliki betul-betul merupakan pelita hati yang menerangi kegelapan pikiran.
  4. Kulina artinya keturunan, keturunan mempunyai arti yang penting dari keturunan seseorang mengetahui lelurhurnya utama boleh bersyukur karena leluhurnya menjadi orang yang terhormat, terpandang, namun jangan sampai takabur, sombong, angkuh, dan menghina orang lain, lebih-lebih sampai menganggap orang lain rendah dan bodoh. Orang yang demikian sesungguhnya adalah hatinya gelap, dengan demikian sikapnya tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat. Sesungguhnya kehormatan leluhur dijaga oleh keturuannya dengan kelakuan yang terhormat juga.
  5. Yowana artinya masa muda atau masa remaja, masa muda adalah penuh dengan kegairahan hidup, penuh dengan kesempatan untuk berbuat banyak terhadap apa yang sangat diharapkan oleh keluarga, masyarakat dan bangsa. Namun pada masa muda ini seorang sering belum punya keseimbangan, atau masih goyah, penuh dengan keraguan, belum tahu kemana arah hidupnya kelak. Untuk mencari keseimbangan itu orang berbuat, dan alam perbuatan itu sering tidak terarah, sering keliru, seperti : melanggar kesopanan, melanggar kesusilaan sehingga dapat merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Bila demikian halnya berarti Yowana atau masa muda itu dapat menimbulkan kegelapan pikiran. Karena itu pergunakan masa muda ini dengan sebaik-baiknya dan jangan sia-siakan , demikian pustaka  Saramuscaya memberikan pedoman. Masa muda ini adalah masa menuntut ilmu bekerja keras, beraktivitas yang baik, menciptakan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan lain-lainnya.
  6. Sura artinya minuman keras. Yang termasuk minuman keras antara lain: tuak, arak, berem, bir, dan lain-lain. Minuman keras itu kalau diminum melebihi dari keperluan tubuh dapat menyebabkan mabuk. Minuman keras yang berlebihan dapat merusak syaraf, dan bisa syaraf terganggu pikiranpun menjadi tidak waras. Pikiran yang tidak waras dapat menimbulkan keonaran, perkelahiran dan sebagainya. Karena itu waspadalah terhadap minuman keras, dan minumlah minuman yang berguna bagi kesehatan tubuh.
  7. Kasuran artinya keberanian, keberanian perlu dimiliki oleh seseorang karena hidup ini adalah sesuatu perjuangan maka dari itu keberanian sangat penting, yaitu keberanian yang wajar-wajar seperti keberanian mengemukakan pendapat, keberanian membela kebenaran. Namun bila keberanian diterapkan di luar kewajaran akan menimbulkan kegelapan dan tindakan yang brutal. Seperti keberanian berkelahi, keberanian menantang guru, keberanian berbuat jahat, semuanya akan menimbulkan penderitaan hidup yang merugikan diri sendiri dan juga merugikan orang lain.

Selasa, 11 Oktober 2016

PENUNGGUN KARANG

Om Swastyastu

Semoga Damai Dalam Lindungan Brahman

Penunggun Karang, dalam beberapa susatra dijelaskan bahwa yang distanakan di sana adalah Hyang Bahu Rekso, artinya yang menjadi penguasa alam secara niskala tempat atau wilayah tersebut. Jadi yang distanakan di Penunggu Karang tidak dapat diimport dari tempat lain apalagi dari Bali. Penunggu Karang bersifat local genius, punya batasan teritorial (batasan kekuasaan).
Jika melaspas atau ngelinggihan membutuhkan kepekaan dari seorang pinandita/pandita untuk tahu siapa yang menjadi penguasa tempat itu. Semua penguasa alam seperti Hyang Bahu Rekso, diketuai oleh Deva Ganesha, jadi Hyang Bahu Rekso dikelompokkan ke dalam GANA BHALA (pasukan Gana),
Jadi kalau di rumah menstanakan Ganesha itu sangat baik karena Ganesha meiliki multifungsi diantaranya adalah:

Sebagai VIGHNASVARA:
Penghalau segala rintangan (OM VAKTRA TUNDA MAHA KAYA SURYA KOTI SAMAPRABHA NIRVIGHNA KURUME DEVA SARVA KARYESU SARVADAM). makanya para Balian meuja Beliau agar dapat menghilangkan penyakit. Sebagai SIDDHI DATA: sebagai pemberi kesuksesan, (SARVA KARYESU SARVADAM).

Sebagai VINAYAKA:
Lambang kecerdasan (intelek), makanya dijadikan simbol pengetahuan, dan baik untuk anak-anak.

Sebagai BUDHIPRADAYAKA:
Memantapkan kebijaksanaan setiap Vaidika Dharma (pencari kebenaran),

sebagai LAMBODARA:
Sumber kemakmuran. Akan lebih baik kalu di Penunggu Karang dilinggihkan Arca Ganesha (devanya para Bahu Rekso), daripada tidak tahu siap yang distanakan. ada beberapa mantra untu Ganesha selain yg diatas:

Gayatri Ganesha:
1)OM EKA DANTHA YA VIDMAHE, VAKTRA TUNDA YA DHIMAHI, TANNO DANTIH PRACCODAYAT
2)OM TAT PURUSA YA VIDMAHE VAKTRA TUNDA YA DHIMAHI TANNO DANTIH PRACCODAYAT.
3)OM TAT KARTAYA YA VIDMAHE HASTA MUKHA YA DHIMAHI TANNO DANTIH PRACCODAYAT.

Ganesha Stava:
OM NAMOSTUTE GANAPTI SARVA VIGHNA VINASANAM SARVA KARYA PRASIDDHAYATU NAMO KARYAM PRASIDDHATAM
Japa Ganesha: OM GAM GANAPATAYE NAMAHA / OM SHRI GANESHA YA NAMAHA.
semoga bermanfaat.

Om Shantih Shantih Shantih Om

PANCA DATU


Panca Datu dan Perjalanan Maharesi Markandeya

Bila kita membaca kisah perjalanan Maharsi Markandeya(yang dijadikan panutan di Pesraman Batu Ngadeg Narayana dengan konsep Waisnawa) tampak jelas dimana keberhasilannya untuk merabas Pulau Bali adalah dengan membawa Panca Datu dan menanamnya di Pura Basukian atau Besakih sekarang. Kok bisa hanya membawa lima jenis logam dapat selamat merabas Pulau Bali yang dulunya terkenal angker dengan roh-roh jahatnya ?

Ini merupakan petunjuk/wahyu yang didapat oleh beliau di lereng Gunung Raung (Jatim) atas petunjuk Dewa Brahma dalam manifestasi beliau sebagai Sang Hyang Pasupati. Ada apa dengan Panca Datu? Seperti yang anda ketahui panca Datu adalah lima jenis logam mulia yang dipakai biasanya ditanam di tanam sebelum membangun suatu pura. Upacaranya dinamakan "mendem pedagingan (mengisi inti). Logam-logam itu antara lain adalah Emas, Perak, Besi,Perunggu dan timah atau beberapa sumber menjelaskan logam-logam tersebut adalah: mirah permata, emas, perak, perunggu dan baja. Dalam postingan ini kami coba mengupas arti panca datu yang dikomparasi dari kajian kitab Weda, Lontar, ilmiah(sebagai sumber tertulis) dan wedangga(sumber lisan wahyu/tutur). Tujuannya bukan mencari kelemahan atau mengkritik satu sama yang lain, melainkan belajar untuk mengupas nilai-nilai Agama yang dapat digunakan dasar/isnspirasi untuk mengarungi samudera kehidupan yang luas ini.

Panca datu (lima jenis logam) sekarang telah menjadi suatu ritual resmi di Bali dalam rangka pemelaspasan/proses inisiasi energi ketuhanan ketika akan mentransformasi suatu pura yang baru selesai dibangun agar dapat dipakai untuk sembahyang (mentransfer energi/sinar suci ketuhanan). Begitu pula bagi pura yang telah lama berdiri, perlu di recharge energinya dengan upacara mupuk pedagingan, pedudusan dll. Kita tidak membahas fungsi panca datu sebagai bagian dari upacara melainkan kenapa Maharesi Markandeya hanya berbekal lima jenis logam dapat merabas pulau Bali? dan kenapa Maharesi diperintahkan menanamnya di pulau ini? ada apa dengan logam dalam konteks energi spiritual.

Sifat dan Energi Logam

Logam dan dunia spiritual/supranatural memang tidak bisa dipisahkan. kami berikan contoh "Keris" keris adalah salah satu jenis tradisional yang diposisikan paling tinggi statusnya, karena keris selain berfungsi untuk senjata penjaga diri juga berfungsi sosial sebagai lambang suatu jabatan, media supranatural dan prestise (kebanggaan pribadi/golongan). Banyak mitos yang lahir dari sosok "keris" ini keris ada yang diyakini mempunyai "roh", keris dianggap dapat memberikan kekuatan tertentu pada pemiliknya dll. Kebudayaan keris di Bali diperkirakan munculnya pada jaman Bali Arya dimana Bali mulai ada interaksi dengan Kerajaan di Pulau Jawa.
Olahan logam yang juga diyakini memiliki nilai spiritual/supranatural adalah gamelan/gong. Gamelan di Jawa dan Bali diyakini meiliki "roh" tertuma di instrumen "Gong"-nya. Di Jawa bahkan instrumen gong ini bersifat "laki perempuan" dan diberikan nama tertentu sedangkan di Bali bahkan ada upacara khusus terhadap instrumen "gong" yang dilakukan sebelum memulai memainkan gamelan.

Dari contoh di atas tampak jelas unsur logam merupakan media yang bagus untuk menyimpan energi-energi spiritual dibandingkan zat yang lain. Jika ditilik dari sifatnya menurut ilmuwan, bahwa logam sebagai suatu kristal terdiri dari ion positif logam dalam bentuk bola-bola keras dan sejumlah elektron yang bergerak bebas dalm ruang antara. Elektron-elektron valensi logam tidak terikat erat (karena energi ionisasinya rendah), sehingga relatif bebas bergerak. Hal ini dapat dimengerti mengapa logam bersifat penghantar listrik yang baik dan juga mengkilap.

Dalam kepercayaan di Bali logam tidak dicantumkan kedalam unsur pembentuk alam. Unsur pembentuk alam di Hindu dikenal sebagai Panca Maha Bhuta yaitu:
Pertiwi(tanah), apah(air), teja(api), bayu(udara), akasa(ether/zat kosong). Panca Maha Bhuta ini diciptakan dari unsur tenaga Tuhan yaitu:
Gandhatanmatra adalah benih unsur pertiwi, rasatanmatra benih unsur apah/air, rupatanmatra benih unsur teja/api, sparsatanmatra benih unsur bayu/udara dan sabdatanmatra benih unsur akasa.

Jika kita komparasikan dengan ilmu alchemy/alkimia. Alkimia (alchemy) adalah suatu seni abad pertengahan untuk menciptakan emas dari logam apa saja. Walau alkimia seolah-olah hanya menghasilkan ilusi akan tetapi tetap berperan besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama ilmu kimia.

Menurut catatan, alkimia lahir di tanah mesir tepatnya Alexandria. Pada periode yang bersamaan, ilmu ini dikembangkan di daratan Cina. Alkimia dipengaruhi oleh teori yang disusun oleh Empedocles sekitar 5 abad sebelum masehi, yang mengatakan bahwa seluruh benda disusun dari udara, tanah, api dan air. Dari teori dasar pembentukan benda tersebut di atas, maka para filsuf terus mengembangkan Alkimia, seperti Zosimus (tahun 250-300), Aristoteles, Geber, Roger Bacon dari Inggris, Albertus Magnus dari Jerman, St. Thomas Aquinas dari Itali dan lain-lain.

Yang paling menarik adalah Philippus Paracelsus, ahli kimia dari Swiss yang menyatakan secara tegas bahwa segala hal dibentuk dari tanah, udara, air, api dan sebuah elemen yang “belum” diketahui. Jika elemen tersebut diketahui, maka diyakini bahwa manusia bisa “menciptakan apa saja” dari keempat elemen tersebut di atas. Setelah Paracelcus tiada, para ahli kimia di Eropa dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang berkonsentrasi pada usaha-usaha scientific untuk menemukan unsur dan reaksi yang baru sedangkan kelompok lain berkonsentrasi pada sisi metafisik dari alkimia kuno (kijeromartani.blogspot.com)

Sangat canggih ya, semua unusr ini kalo disatukan akan menjadikan emas, masalahnya unsur kelima akasa (ether) masih belum diketemukan/dimengerti sampai sekarang, tugas anda untuk mencarinya. Emas dalam alkimia yang dianggap tujuan akhirnya merupakan logam yang sangat indah warna kuning yang mengkilap sempurna menjadi idaman manusia dari jaman dulu. Terbukti di lukisan-lukisan Dewa atau yang tercantum dalam Weda (digambarkan para dewa berpakaian emas).

Jika dilihat dari kaca mata spiritual warna emas merupakan assosiasi dari sinar suci Tuhan, jadi pengolahan keempat unsur tadi plus unsur kelima akan membuat bumi/badan kita akan bersinar. Caranya bagaimana tentu membutuhkan pendalaman ajaran spiritual sesuai yang diinginkan.

kembali ke kelima unsur logam, jadi panca datu tersebut adalah pengolahan sinar suci tuhan yang ditanam di pulau Bali sehingga menghubungkan kepada Sinar yang tertinggin yatu Tuhan Yang Maha Esa. maka dengan menanam panca datu di pura yang baru berarti tanah pura tersebut telah diubah menjadi "emas" yang penuh dengan sinar-sinar kesucian Tuhan.

Panca Datu dalam Kajian Filsafat Agama

Seperti yang telah kami kemukakan di atas bahwa Panca Datu ditanam di tanah ketika akan "mensahkan" satu pura menjadi tempat suci yang dapat digunakan untuk sembahyang. Kenapa harus ditanam di tanah. Kita kembali lagi ke konsep Bhuwana Agung=Bhuwana Alit dan unsur pembentuknya sama yaitu Panca Maha Bhuta.

Nah kelima jenis panca datu ini merupakan penetralisir dari panca Maha Butha tersebut, jadi panca datu ini adalah "jangkar" atau sofware yang "diinstall ke dalam tanah" sehingga unsur tanah tersebut dalam memancarkan sinar kesucian. Tentu pada waktu-waktu tertentu "software tersebut wajib diupdate biar tidak terjakit "virus" yang merusak sistem.

Menurut pesraman Batu Ngadeg Narayana Panca Datu yang dibawa oleh Maharsi Markandeya secara filsafat berarti Panca(Lima) Datu=Dasar Tutur(dasar Filsafat/pondasi keimanan).

Apakah Dasar Tutur menurut pesraman? itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lima pokok /tuntunan dasar beragama Hindu yaitu Panca Sradha. Yaitu: Percaya terhadap Brahman, percaya terhadap atman, percaya terhadap karma Phala, percaya terhadap Punarbawa/reinkarnasi/samsara, percaya terhadap moksa.

Jadi sesuai dengan wahyu/sabda yang didapat dengan membawa "panca Datu" ini dan kemantapan dalam menjalaninya membuat Maharsi markandeya sukses "merabas" Hutan sampai akhirnya sampai ke Tujuannya (Besakih).

Hutan disini tentu yang dimaksud adalah dinamika kehidupan di dunia fana ini dan tujuannya adalah kelepasan/kebahagiaan Abadi/ Moksa. itu yang didapat berdasarkan tutur/sabda/wahyu yang didapat.

Jadi logam-logam tadi perlambang itu semua:
Emas=percaya terhadap Brahman (unsur yang dianggap tertinggi/murni)
perunggu=percaya terhadap Atman (mirip kayak emas namun belum murni)
Besi=percaya dengan karmaphala (unsur yang paling gampang ditempa)
baja=percaya terhadap reinkarnasi (unusr terkuat/perlambang kita tidak bisa terlepas darinya)
mirah permata=percaya terhadap moksa (unusr mengikat sekaligus merupakan tujuan akhir)

Memang hal ini perlu didiskusikan tidak bisa didoktrin sebagai yang paling benar. Namun kami harapkan dengan membaca pemaparan kami anda dapat menyimpulkan sendiri atau bahkan mempunyai inspirasi untuk mengungkapkan apa arti panca datu tersebut menurut logika dan "rasa". Semoga bermanfaat.

Jumat, 07 Oktober 2016

Sloka Penciptaan dan Pralaya Bhuana Alit

a. Kitab Manawa Dharma Sastra 1.9
 “So’bhidhayaya carirat swatsisrksur wiwidhah prajah, apa ewasa sarja dan tasu bija mawa bijat”   

Artinya:
Ya Tuhan yang menciptakan dari dirinya sendiri semua makhluk hidup yang beraneka ragam, mula-mula dengan pikirannya, terciptalah air dan dan meletakkan benih-benih kehidupan pada air itu.

b. Kitab Bhagawad Gita XIV.3
“Mama yonir mahad brahma, tasmin garbham dadhamy aham sambhavah’sarwabhutanam tato bhavati bharata” 

 Artinya:
KandunganKu adalah Brahma Yang Esa di dalamnya Aku letakkan benih dan dari sanalah terlahir semua makhluk, wahai Bharata.

c. Kitab Manawa Dharma Sastra 1.41
“Ewwametairidam sarwam manniyoganmahatmabhih yathakarma tapoyogatsrstam sthawarajabggamam”  

Artinya :
Demikianlah semua ciptaan, yang bergerak maupun yang tidak bergerak, diciptakan oleh mereka yang Maha Atma dengan kekuatan tapanya, semuanya atas perintah-Ku dan menurut hasil daripada perbuatannya.  

d. Kitab Bhagawadgita III. 24
“Utsideyur ime loka, na kuryam ced aham, sankarasya ca karta syam, upahanyam imam prajah”  

Artinya :
Jika aku berhenti bekerja, dunia ini akan hancur lebur dan aku jadi pencipta keruntuhan memunashkan

TRI PRAMANA

Adalah mahluk hidup yang memiliki tiga kekuatan hidup yaitu; Bayu, Sabda dan Idep. Mahluk ini disebut juga Manusia. Bayu adalah kekuatan nafas, Sabda adalah kekuatan suara dan Idep kekuatan pikiran.
Diantara mahluk hidup hanya manusialah yang memiliki semua unsur ciptaan Tuhan secara lengkap. Baik unsur terhalus sampai unsur paling kasar.Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lain adalah komposisi dan perimbangan unsur-unsur pembentukannya serta karmawasana yang telah dibentuknya.Manusia dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Nara Marga : Manusia binatang, sudah memiliki pola pikir manusia tapi tubuhnya masih berupa binatang. Contohnya Narasinga (manusia berkepala singa).

2. Wamana : Manusia kerdil

3. Jatma Manusia : Manusia sempurna

Selain jenis manusia di atas, terdapat juga jenis manusia lainnya berdasarkan sifat dan jenis kelaminnya, yaitu;
 Berdasarkan jenis kelamin:

1. Manusia laki-laki (purusa)

2. Manusia perempuan (pradana)

3. Manusia banci (berjenis kelamin laki-laki namun bersifat perempuan)

Manusia disebut sebagai makhluk tertinggi, kelahirannya mengalami proses yang panjang. Dijelaskan bayi yang berada di kandungan terwujud akibat pertemuan Kama Petak (disebut Sukla, sel laki-laki yang disimbolkan dengan Sang Hyang Smara) dengan Kama Bang (disebut Swanita, sel perempuan yang disimbolkan dengan Dewi Ratih). Lontar Anggastyaprana menjelaskan pertemuan Kama Petaka dan Kama Bang disebut Sang Ajursulang. Luluhnya pertemuan tersebut disebut Sang Bubur Rumaket, pada saat itulah dating Sang Hyang Nilakanta menganugerahkan berkah bagaikan telur yang disebut Sang Antigajati atau Manik. Manik masuk ke dalam Garbha Pradhana (perut ibu) dan akhirnya mengendap dalam Kunda Cacupu Manik atau Iwapadha atau Mula Dhara (rahim). Selanjutnya Manik mengalami pertumbuhan dan kemudian lahir sebagai bayi (Bhuwana Alit).

Dwi Pramana

Adalah mahluk hidup yang memiliki dua kekuatan hidup yaitu Bayu dan Sabda. Mahluk ini dikenal dengan nama Satwa atau Sato.. Adapun yang tergolong dalam Sato adalah :
1. Swedaya yaitu binatang bersel Satu.
2. Andaya yaitu binatang bertelur.
3. Jarayuja yaitu binatang menyusui.

Eka Pramana

Yaitu mahluk hidup yang hanya memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yaitu Bayu. Mahluk hidup ini juga dikenal dengan nama Sthawara yaitu mahluk hidup yang tidak berpindah-pindah seperti tumbuhan. Termasuk dalam golongan Sthawara adalah :
1. Trna yaitu bangsa rumput baik yang hidup di air maupun di darat.
2. Lata adalah tumbuhan menjalar di tanah atau di pohon.
3. Taru yaitu semak dan pepohonan.
4. Gulma adalah bangsa tumbuhan yang bagian luar pohon berkayu keras dan bagian dalam berongga atau kosong.
5. Jangama yaitu tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon lain.